Di seberang
jalan, di bawah pohon itu untuk pertama kali aku ingin menemuimu. Di senja itu aku akan menjadi pahlawan bagimu. Dari sebuah gedung yang bertengger tepat dari bagian
muka, engkau keluar dengan langkah gontai. Engkau menuju ke arahku yang sedang
duduk di atas jog motor di pinggir jalan.
Dari kedalam hati mulai terdengar
dentuman keras yang membuat segala tingkah jadi tak berjalan secara alami.
Engkau semakin mendekat dengan senyum khas seperti yang terdapat di dalam
beberapa foto yang pernah kulihat dalam dairymu yang kutemukan di rak temanmu.
"kak,,"
dengan riang kau telah berdiri tepat di depanku.
"Ini
bukunya"
Kusodorkan sebuah
buku. Kedatanganku tak lain memang untuk mengantarkan buku itu. Aku
meminjamkannya untukmu dari sebuah perpustakaan lantaran kamu kesulitan
mendapat buku itu.
"Kok cuma
satu kak, yaaah"
"Sebenarnya
ada dua, tapi aku bisanya hanya pinjem satu"
"Aku butuh
sepuluh refrensi, kak"
"Ya mau
gimana lagi. Adanya cuma itu kok"
"Ya sudah
gak apa-apa, kak"
"Kalau kamu
mau, kamu boleh pinjem sendiri di perpustaakan. sebenarnya tadi aku sudah dapat
dua. Hanya saja tak boleh aku meminjamnya kecuali satu buku itu"jelasku
"knapa kak?"
"Aku sudah
punya tanggungan satu buku. Jadi ya, tidak bisa pinjam lebih dari satu"
"owg gitu
ya, kak? ya sudah, ini saja tidak apa-apa"
“Terima kasih,
kak”
Engkau pergi
dengan ucapan terimaksih, kembali menuju gedung itu. Dari belakang terus
kuperhatikan langkahmu yang gontai. Hingga sesaat engkau ditelan oleh daun
pintu di salah satu gedung itu, aku masih melihatmu.
No comments:
Post a Comment