Cerpen Arifin
Di depan cermin, Nazar membolak
balikkan badannya. Sesekali tangannya mengibas ke bahu, ke paha, hingga ke betis,
memastikan tak ada debu atau kotoran lain yang menempel di seragam putih dan
celana abu-abunya. Rambutnya nampak mengkilap dengan model mohak. Ia terlihat
sangar dengan sabuk hitam berkepala tengkorak. Ditambah lagi dengan tubuhnya
yang menjuntai kekar. Ia lebih mirip dengan artis India Salman Khan. Senyum tipis
tersungging di bibirnya. Sementara di pikirannya tersusun banyak rencana.
Diambilnya tas yang terdampar
diatas meja di sebelahnya. Ia bergegas menuju halaman, ke sebuah motor yang
sedari tadi telah mengaung dan sempat membuat bising. Mina, ibunya, hanya
melihat anaknya dari depan pintu pawon, menggeleng-geleng ketika motor yang
ditumpangi anak sulungnya itu semakin kecil, mengecil hingga akhirnya tertelan
oleh jarak.
Ia menghela nafas panjang dengan
perasaan bimbang dan pikiran yang tidak tenang. “Kapan anakku bisa lebih baik,
minimal bisa menghormati orang tua”gumamnya.
Ketika begitu ia ingat kepada si Hendri.
Kekalutan hati perempuan itu selalu lenyap seketika tatkala ia ingat kepada si
bungsu itu. Kabarnya, Hendri anak berprestasi di sekolah. Semenjak duduk di
madrasah Aliyah ia memilih tinggal bersama pamannya di kalimantan dan sekolah
di sana. Waktu akan menjemputnya pulang menjelang kelulusannya dari Madrasah Aliyah,
dua tahun mendatang.
Barangkali karena ikatan batin
antara ibu dan anak, sehingga apa yang Hendri lakukan akan selalu menyentuh
sanubari seorang ibu. Kalau ia berbuat baik maka seorang ibu juga akan
merasakannya. Sebaliknya, jika anak bertingkah tidak wajar, seorang ibu juga akan
merasakan hal yang sama. Inilah yang mungkin tidak pernah terjadi pada Hendri
hingga ketika ibunya mengingatnya, kegembiraan selalu menghampirinya.
Mina kemudian masuk pawon,
melanjutkan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.
***
Masih lekat di ingatan Mina
ketika Rusli kekasihnya mengambil keperawanannya tujuh belas tahun silam.
Disebuah gubuk, di atas bukit yang berjarak sekitar 1 km dari rumahnya. Dengan
tubuh tanpa sehelai kain, Rusli kemudian menelantarkan Mina dalam gulita. Rusli
mengingkari janji untuk menjadikannya sebagai istri.
Belum genap sebulan hubungan
sepasang kekasih itu. Rusli kemudian seperti di telan bukit entah kemana setelah
mencicipi lubang vaginanya. Dari perbincangan tetangga, diketahui kalau
ternyata Mina bukanlah orang pertama yang menjadi korban. Seseorang bercerita,
dua malam sebelum kejadian yang menimpa mina, hal yang sama juga di alami
wanita desa sebelah.
Kejadian itu membuat Mina trauma.
Ia hampir mengalami depresi. Perlahan tubuhnya mulai kurus, bola matanya
menarik kebelakang, bibir dan kulitnya mengering lantaran kurang makan. Bukan
karena ia sakit gigi atau radang tenggorokan. Melainkan, sembilu seperti telah
mengiris kalbunya. Pedih. Amat pedih. Siang dan malam air mukanya mengucur
deras, sederas aliran air sungai di belakang rumahnya.
Mina juga sempat melakukan usaha
bunuh diri. Kala subuh tiba, ketika orang-orang mulai bersiap menuju masjid.
Mina berjalan menuju sungai di belakang rumah. Dengan pikiran kalut, ditatapnya
aliran arus sungai. Ia mencebur, berusaha menghabiskan darinya dari kehidupan.
Bunuh diri akan menghilangkan segala kesedihan. Atau paling tidak akan
menghapus kucuran air mata, menghilangkannya dengan cepat, secepat aliran
sungai itu. Gagal.
Seorang menyelamatkannya. Ia
adalah pak Tejo, duda paruh baya yang dikenal penjaga masjid. Takmir. Rumah
mereka berdekatan. Hanya dibatasi oleh sungai dengan lebar sekitar lima meter.
Pak tejo telat ke Masjid karena mendadak harus buang tinja di dasar sungai.
Keadaan sempat riuh ketika
teriakan pak Tejo bak kilat di pagi hari. Warga langsung bergegas menuju sumber
suara yang tak lain dari dasar sungai. Kaget mendapati mereka terkejut ketika
keduanya sempat diseret air sungai. Sontak, sebagian bergegas dengan alur pikiran
yang tidak terencana. Ada yang mencari kayu untuk alat pegangan. Sebagian
melompat berusaha menyelamatkan mereka dengan tangan kosong. Sebuah kayu besar ternyata
menahan tubuh mereka. Selamat.
Dibawalah mereka pulang. Saat itu
Marni, ibunya, hanya bisa meraung. Mukanya kuyub dengan air tangis. Andai
bapaknya, Abdullah, masih hidup mungkin ia tidak tinggal diam, memburu rusli
walau sampai keujung langit.
Sehari, seminggu, hingga sebulan
berlalu. Mulai terpancar ketenagan diraut muka Mina yang bunder. Walau masih nampak
kurus, kebugaran tubuhnya mulai terlihat. Sepertinya kesedihan itu sudah pergi.
Mungkin telah di bawa arus sungai di subuh itu.
Seperti kebanyakan orang, Mina
mulai pergi kemana-mana; kepasar, ke warung, kesawah, atau sekadar kesungai
untuk mandi dan mencuci. Keceriaan pun terpancar di sosok Marni. Entah lah
perasaan orang tua itu: akankah ia masih khawatir akan masalah yang menimpa anaknya
beberapa waktu lalu.
Kekhawatiran Marni ternyata tak
terbukti. Marni semakin yakin setelah seorang lelaki datang untuk malamar anaknya.
Mina menerima lamaran lelaki paruh baya itu.
Tejo. Ya, Tejo, si takmir masjid, “utusan tuhan”, seorang duda yang
hidup sebatangkara.
Sayangnya Marni tak bisa melihat
kebahagiaan putrinya terlalu lama. Marni yang telah dimakan usia harus pergi
utuk memenuhi panggilan tuhan.
Waktu berlalu. Mina akhirnya
dikarunia dua orang anak. Si sulung
Nazar dan si bungsu hendri. Selisih umur mereka hanya dua tahun. Hendri
dilahirkan setelah dua tahun tujuh bulan dari pernikahannya.
Mina merawat dan membesarkan
mereka dengan kasih sayang. Tak pernah ia memarahi, apa lagi memukulnya. Beban
Mina bertambah setelah suaminya Tejo mulai dimakan umur. Selain mengurus kedua
anaknya, ia harus mengurus suaminya yang hanya bisa berbaring ditempat tidur.
Apa lagi setelah nazar tumbuh tak
sesuai harapan. Tak hanya tenaga, pikirannya pun terkuras oleh tingkah laku
anaknya. Berbeda dengan Hendri, Nazar menjadi anak nakal. Tak taat kepada orang
tua. Bahkan sering membuat onar di mana-mana.
Banyak orang curiga. Desas-desus menjadi
satu bumbu penyedap ketika orang-orang makan di warung, mandi di sungai dan
perbincangan kecil di pos kamling desa. Mereka menduga-duga kalau Nazar bukan
dilahirkan dari pernikahan Marni dan Tejo. Melainkan anak haram, hasil kelakuan
si biadab Rusli. Kelahiran Nazar yang hanya bertenggang waktu tujuh bulan
setelah pernikannya dengan Tejo semakin memperkuat dugaan mereka. “walaupun itu
dapat terjadi, jarang-jarang orang mengandung hanya tujuh bulan” katanya
Sebenarnya mina juga faham itu. Namun,
dilumatnya perasaan itu dari kehidupannya, menutupnya rapat-rapat kepada
suaminya. Rusli adalah masa lalu yang telah terkubur. Ia tak mau mengingat lagi
wajah biadab itu.
Biar bagaimanapun Nazar adalah
anaknya, entah hasil dari si biadab Rusli atau si alim Tejo. Anak tetap anak
yang harus di sayang tanpa kurang dan di nasehati kalau menyimpang.
***
Gerombolan pemuda sering
berkumpul di sebuah buk, di pinggir jalan dengan seragam sekolah yang masih
melekat ditubuhnya.
Kebiasaan mereka tak ada ada lain
kecuali membuat masalah; menutup jalan, melempar kendaraan. Mereka juga merampok.
Tak segan pula mencabuli wanita yang lewat jika dirasa sesuai selera atau hanya
demi meluapkan nafsu. Pernah pula mereka mencabuli siswi di sekolahnya. Namun
kecerdikan telah membuatnya selalu aman dan nyaman sehingga perbuatan asusila
itu terbungkam dengan rapatnya.
Mereka adalah Nazar dan kawannya.
Usia mereka memang masih muda, tapi kenakalannya boleh dibilang melebihi dua
kali lipat melebihi kenakalan orang dewasa. Taktinya menyimpan rahasia bak
pesulap dalam menyembunyikan triknya.
Hari-hari mereka habiskan dengan berfoya-foya:
dangdutan, mabuk-mabukan dan banyak hal. Menghabiskan banyak rupiah untuk
kegiatan tak berguna. Pun uang yang mereka pakai tak sedikit diperoleh dari
cara yang tidak halal.
“nu, kamu jaga disini untuk mengawasi.
Kalau ada orang, beri isyarat” perintah Nazar kepada Wisnu disebuah gulita, di
halaman belakang rumah salah seorang warga di desa sebelah.
“dan kamu sik, ikut saya masuk”
ia menunjuk wasik untuk memudahkan aksinya.
Wasik hanya mengangguk sembari
membuntutinya dari belakang. Di tangannya ada senjata tajam jenis pisau.
Mereka mengintai sebuah ternak.
Terlihat sebuah lampu kecil yang masih menyala di depan pintu kandang. Mata
mereka melirap sana-sini, memastikan tidak ada yang melihat aksinya.
“Aman!”pikirnya
Suasana hening. Seperti tak ada
kehidupan di sana. Hanya suara kaki samar-samar. Sesekali terdengar desisan
ternak karena gangguan nyamuk dan jenis binatang kecil kandang lainnya. Nazar
terus melangkah mendekati muka kandang. Sementara wasik terus membuntutinya
dari belakang.
Huh! terkejut. Nazar menoleh. Belum
sempat ia meletakkan telunjuk kanannya di kedua bibir, sebuah isyarat untuk
tidak berisik.
“Gubrak,,gubrak,,”
Jebakan !
***
Mina menangis tak kepalang
tanggung. Seperti kesedihan dan kesusahan memang selalu ditakdirkan untuknya. Menderita
karena Rusli, menanggung beban keluarga dan kini ia harus mendengar kabar Nazar
diringkus polisi semalam karena kasus pencurian. Wasik, meninggal terkena sengatan
listrik. Hendri?entahlah. Mungkin ia ditelan gulita malam. Polisi hingga kini
memburunya.
Seluruh warga mendengar kabar
mengerikan ini. seperti tak ada topik lain untuk dibahas, kabar nazar menjadi semakin
menjadi perbincangan hangat. Ada yang merasa kasihan karena Mina. Ada juga yang
tak segan-segan menyukurinya. Diringkusnya Nazar merupakan pertanda baik, akan
dimulainya sebuah ketentraman. Tak ada lagi pemabok, pemotong jalan, dan
pencuri. Itu artinya, warga tak perlu lagi berpatroli menjaga keamanan.
Sebagian hanya heran dengan
tingkah buruk Nazar lantaran seratus delapan puluh derajat berbeda dengan
hendri, adiknya.
Seminggu berlalu. Mina berkeinginan
menjenguk si sulung itu. Dinaikilah angkot warna merah jurusan kabupaten,
sebuah tempat dimana anaknya dikurung di jeruji besi. Mina sedikit tegang
dengan pikiran yang tidak karuan ketika sampai di halaman bui. Mungkin karena
baru pertama ia ke sana. Disana-sini ada polisi dengan seragam. Tak sedikit
pula orang dengan wajah tak jelas. Namun dari seragamnya mudah dijelaskan kalau
mereka adalah tahanan.
Sontak wajah Nazar tergambar di
bayangnya. Dipercepat langkahnya. Sesegera mungkin ia ingin bertemu Nazar. Ia
merindukan bocah “ingusan” itu.
“Mau ketemu siapa bu” tanya
seorang petugas
“Nazar”
“Nazar sulasno”ia memperjelas
nama anaknya.
“Mari ikut kami”
Polisi kemudian mempersilahkannya
masuk kesebuah ruangan. Terlihat kesedihan yang sangat diwajah Mina setelah
melihat Nazar dengan seragam biru tua di balik pagar besi. Bukan seragam putih
abu-abu seperti yang ia kenakan setiap
pagi. Nazar diam. Lemas. Namun ketenangan masih sedikit terpancar di matanya.
Mina melihat itu di mata tajamnya.
Tak lama, tiba-tiba Mina terkejut.
Ia melihat laki laki di samping nazar. Wajah jangkung dengan rambut mohak
seperti nazar. Ada luka gores di lengan dan wajahnya, sedikit memar. Seperti
baru di hantam batu dan kemudian cambuk. Mina merasa tak asing dengan wajah
itu. Ya, lelaki itu adalah Rusli.
Semarang/Maret/2013
No comments:
Post a Comment