Oleh:
Miftahul Arifin*
(Dimuat di Rima News, Desember 2012)
Perubahan
zaman dari tradisional ke-modern yang ditandai dengan berkembangnya imu
pengetahuan dan teknologi telah mengubah gaya hidup masyarakat di seluruh lini
kehidupan: budaya, ekonomi, politik, idiologi dan lainnya.
Gaya hidup konsumtif
yang cenderung menihilkan nilai-nilai sosial, tak pelak, turut andil sebagai akibat dari globalisasi
itu. Konsumerisme semakin lekat dengan kehidupan masyarakat, tak hanya pada
masyarakat kota. Tradisionalistik sebagai ciri masyarakt desa, makin hari,
makin tak terlihat.
Barangkali
ini ada kesamaan dengan apa yang pernah disinggung oleh Hassan Hanafi. Bahwa
pengaruh westernisasi tengah mengancam peradaban umat manusia, tak hanya pada
kebudayaan manusia dan konsepsi tentang alam. Melainkan, telah merambah pada
kehidupan sehari hari (Hassan Hanafi, 2000). Masyarakat bukan lagi
masyarakattradisonal yang memelihara tradisionalistik dan bukan pula masyarakat
modern yang memiliki ciri modernitas.
Masyarakat telah kehilangan identitas dirinya.
Handphone
Handphoneadalah
salah satu produk modern yang bisa dianggap paling laris di seluruh seantoro
dunia, tanpa terkecuali Indonesia. Ia telah menjadi kebutuhan pokok setiap
orang. Dengan handphone, orang mudah berkomunikasi, sekalipun jarak tempuh
puluhan bahkan ribuan kilometer. Orang pun beramai-ramai membeli handphone.
Bagi
masyarakat indonesia, handphone tak hanya sekadar sebagai alat komunikasi.
Tetapi, ia menjadi semacam gaya hidup dan penentu identitas sosial. Orang akan
dianggap “gaya” dan “gaul” jika yang digunakan adalah handphone “bermerek”
dengan harga mahal. “jangan sampai orang-orang indonesia diberi tahu handphone
keluaran terbaru kecuali akan dilahap habis dalam waktu sekejap” ungkap seorang
teman kepada penulis. Inilah gaya hidup masyarakat Indonesia yang lebih
mementingkan gaya hidup dari pada kualitas diri.
Lebih parah,
handphone tidak dapat berfungsi dengan benar. Jamak pengguna handphone tidak
menggunakannya secara proporsional, tidak sesuai dengan etika sosial. Handphone
kerap menjadi alat bantu melancarkan modus penipuan dan kejahatan. Apa lagi
setelah muncul model-model baru (tentu, dengan modal yang baru juga) dengan
beragam fitur semisal Blackberry.
Komunikasi
dengan menggunakan Black berry sukar dilacak oleh orang lain sebab servernya
bukan di dalam negeri. Hal ini juga lah yang menyebabkan para koruptor tak
mudah teridentifikasi oleh penegak hukum di Indonesia. Chat dengan Black Berry
terbatas hanya dengan orang tertentu yang sulit di lacak pihak lain.
Bahaya Hidup
Konsumtif
Konsumsi,
menurut Yasraf Amir Pilang, dapat dimaknai sebagai sebuah proses objektifikasi,
yaitu proses eksternalisasi atau internalisasi diri lewat objek-objek sebagai
medianya(Yasraf Amir Pilang, 2004). Ada yang berpendapat, pengertian konsumsi
tersebut menjadi bingkai seorang untuk memahami alasan mengapa orang terus
menerus melakukan konsumsi. Objek konsumsi yang telah menjadi bagian internal
pada diri seseorang akanberpengaruh terhadap pembentukan pribadi seseorang.
Dari sini,
pola hidup konsumtif bisa dipandang amat
berbahaya. Ia akan cenderung menihilkan nilai-nilai sosial untuk memenuhi
kebutuhan konsumsinya.
Dalam
masyarakat konsumtif, identitas sosial bukan diukur melaui sejauh mana
seseorang dapat menerapkan nilai dan norma yang berlaku. Melainkan sejauh mana
ia dapat mengimbangi pola kehidupnya yang tengah berkembang dalam masyarakat
tersebut. Asal penampilan oke, banyak duit, walaupun secara etis amburadul, ia akan
dinilai lebih karena mengikuti tren yang tengah berlaku. Pun relasi yang
dibangun biasanya hanya berdasarkan kedudukan semata.
Sukar
ditemukan, masyarakat yang di atas rata-rata secara ekonomis, bergaul dengan
orang miskin. Pergaulan dengan orang yang lebih rendah dinilai akan menurunkan
derajat: gengsi.
Mereka lupa
akan lingkungan karena asik dengan mempersiapkan atribut diri. Anggapan
masyarakat internasional bahwa Indonesia adalah pasar yang menjanjikan profit
besar tak lain merupakan satu interpretasi sebagai akibat dari gaya hidup
masyarakat Indonesia yang bersifat konsumtif. Gaya hidup seperti ini menjadi
sebab semakin terpuruknya masyarakat indonesia, di satu sisi.
Padahal,
salah satu prinsip hidup bermasyarakat adalah semakin meningkatnya integritas
sosial sehingga timbul kesetaran dan kenyaman satu sama lain.
Ketika
masyarakat cenderung hidonis dengan gaya hidup yang “lahap” dengan barang
produksi, maka ia akan berusaha sekuat hati dan tenaga untuk memenuhi
hasratnya. Ditambah dengan tuntutan sosial, cara negatif tidak menjadi alasan
asal identitas diri tetap terjaga. Pola hidup yang “rakus”, sehingga, apapun
akan ia lakukan untuk mewujudkan hasrat diri.
Masyarakat
seperti ini adalah kelompok masyarakat, dimana, ia tak lagi melakukan relasi secara
universal. Komunikasi hanya berdasarkan kedudukan yang setara. Tak ada
kesempatan komunikatif untuk orang di luar golongannya. Akhirnya, kekayaan dan
kehidupan yang layak hanya berpihak pada orang-orang tertentu.
Kecendrungan
semacam inilah yang menjadikan masyarakat kita seperti yang dikatakan oleh
Rhoma Irama dalam salah satu lagunya; yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin.
Sebagai
orang terdidik, tentu kita tidak menginkan hal itu. Kesetaraan masyarakat atau
minimal keyaman hidup satiap orang menjadi salah satu cita-cita mulia bangsa
ini yang harus kita junjung bersama-sama.
________________________________________________
*Peneliti
Idea Studies dan Aktifis SKM Amanat IAIN Walisongo Semarang.
No comments:
Post a Comment