Mengapa Aku Moderat, Antara Takdir Tuhan dan Usaha Manusia
Tuhan
menciptakan saya tidak untuk diam. Tuhan pun menciptakan saya tidak untuk
berontak dan mengabaikan-Nya dalam kehidupan. Tuhan hanya ingin saya berbuat
sesuai dengan hukum alam yang telah dibuat oleh-Nya. Karenanya ia menciptakan
akal untuk saya, dan menyuruh saya untuk berfikir atas apa yang harus saya
lakukan untuk mendapat ridhonya.
Dalam
kehidupan sehari-hari, tak jarang manusia menyalahkan orang lain atas keadaan
dirinya yang mungkin kurang sesuai dengan harapan. Kurang beruntung kalau saya
boleh menyebutnya. Bahkan bisa saja ia menyalahkan tuhan dengan mengatakan
bahwa tuhan tidak peduli dengan hidupnya.
Banyak pula orang yang hanya
menggantungkan diri kepada orang lain. Orang lain dianggap lebih bisa untuk
mensukseskan sesuatu apa yang diharapkan. Dan termasuk pula tuhan: ia diangaap
memiliki peran yang sangat vital dalam proses perjalanan hidupnya. Sehingga
ketika yang diharapkan itu tidak tercapai ia akan menggap bahwa ini adalah
bagian dari renacana dan ujian dari tuhan. Akibatnya, ia menumpulkan otaknya
dan membiarkannya berkarat.
Menarik sekali, bagi saya, sebuah artikel
yang diposting di kompasiana.com. Judulnya
“Pelajari Cara agama menipu Anda”. Artikel itu ditulis oleh Revo Samantha dengan akun www.kompasiana.com/RevoSamantha. Ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri
manusia merupakan proses alamiah, tidak ada mistifikasi misterius dalam
prosesnya. Ia menyayangkan bahwa manusia malas dan gagal dalam memahaminya.
Ada
tiga pemisalan yang ditulis oleh Revo. Pertama, seorang pemeluk agama (orang
yang menyakini adanya tuhan) ketika merasa sakit mereka akan meyakini bahwa itu
cobaan dari tuhan. Padahal menurut dia, itu merupakan kecerobohan dan
ketidakberdayaannya dalam menjaga kesehatan diri.
Kedua,
jika seorang pemeluk agama gagal dalam hidupnya, mereka meyakini bahwa tuhan
belum memberi kemudahan dalam hidupnya. Padahal, menurutnya, bila dirunut semua
itu merupakan hasil dari berfikir dan cara bertindak yang tidak terarah.
Dan tetiga, jika seorang pemeluk
agama merasa tidak bahagia dalam hidupnya, maka mereka meyakini bahwa Tuhan
belum memberkati hidupnya. Padahal yang terjadi, mereka malas dan gagal menata
pikiran dan hati mereka.
Begitulah seterusnya.
Dalam kontek hubungan tindakan
manusia dan tuhan, dalam ilmu kalam, setidaknya kita mengenal tiga aliran yang
mungkin bisa mewakili seluruh aliran yang tak sedikit jumlahnya. Ketiga aliran
itu Mu’tazilah, Qadariah dan Asy’ariah. Faham Mu’tazilah yang berciri
rasional menganggap bahwa manusia adalah penentu segalnya. Ia mentukan dirinya
dan tidak ada peran tuhan dalam setiap tindakannya.
Adapun faham Qadariah menganggap
bahwa manusia berada dalam genggaman tuhan. Perbuatan manusia adalah perbuatan
tuhan. Manusia tidak punya kuasa untuk melakukan apapun. Tuhanlah yang
menggerakkan manusia, dimana pun dan kapan pun.
Sedangkan faham Asyariah berada
pada posisi tengah dari kedua paham tersebut. Ia mengatakan bahwa perbuatan
manusia adalah kehendak manusia tanpa lepas dari kehendak tuhan. Manusia
memiliki kebebasan melakukan apapun, tetapi masih berada dalam kehendak tuhan.
Tuhan meberikan daya untuk manusia dan tindakan manusia sesuai dengan daya yang
telah diberikan oleh tuhan.
Sebagai orang yang telah sedikit
banyak mempelajari ketiga aliran tesebut, saya tidak meyakini untuk kemudian mengikuti
dua paham yang pertama, Mu’tazilah dan Qadariah. Pikiran dan hati saya menolak
jika tuhan memberikan kebasan yang se bebas-bebas kepada manusia dan saya pada
khususnya tanpa ada peran tuhan di segala tindakan yang saya lakukan.
Begitupun pada paham yang kedua,
hati saya akan berontak jika saya harus diibaratkan seperti seperti robot yang selalu
disetir melaui remot kontrol oleh tuhan, tanpa diberi kesempatan untuk
melakukan sekehendak hati dan pikiran saya. Untuk apa tuhan menciptakan akal
jika pada akhirnya saya sepenuhnya harus dikendalikan oleh tuhan? ini kurang
masuk akal bagi saya.
Saya hidup dengan masyarakat, teman
dan tetangga. Seluruh interaksi saya dengan mereka berjalan sesuai proses alam
yang diciptakan oleh tuhan sebagai pencipta pertama.
Apa yang saya yakini ini mungkin
ada kaitannya dengan beberapa pengalaman hidup yang saya jalani. Kebetulan
sekali, ketika saya menulis catatan ini, setidaknya ada dua hal yang menimpa
hidup saya. Pertama, mungkin saya termasuk orang yang sangat minim dalam bidang
ekonomi. Sebagai seorang perantau yang jauh dari keluarga, saya menyambung hidup dari hari ke hari dengan
kerja sederhana dan tidak menentu.
Saya tidak pernah gentar apalagi
takut dengan kehidupan saya. Di satu sisi mungkin sudah menjadi keyakinan saya,
ketika awal keberangkatan saya ke daerah rantau yang bernama Semarang. “Saya
tidak mungkin mati karena kelaparan,” begitulah keyakinan yang sampai saat ini
masih saya pegangi. Saya hanya yakin bahwa hidup saya akan terus berlanjut.
Tentu saja, dengan keyakinan itu
saya tidak lantas diam meskipun keyakinan itu sudah mendarah daging. Untuk memenuhi
kebutuhan hidup, saya harus bekerja. Dan saya tidak yakin jika saya hanya mengandalkan
doa kepada tuhan, lantas tuhan langsung memberikan apa yang saya inginkan. Bagi
saya, semua akan berjalan sesuai dengan proses alamiahnya. Saya harus kerja
untuk memenuhinya. Saya menyakini bahwa keyakinan saya
ini juga diyakini oleh orang kebanyakan.
Kedua, saya sebagai anak muda dan
sepeti kebanyakan pemuda lain se usia saya, mesti menyukai seorang wanita. Wanita
bagi pria adalah kebuthan dasar yang mau tidak mau menuntut pemenuhan. Saat ini saya menyukai seseorang di
kampus tempat saya kuliah. Kesukaan saya tumbuh setelah bebera kali saya
bertemu dengannya dalam satu kegiatan. Sekali saya telah mengajaknya pergi.
Beberapa hari setelah bertemu
dengannya, perasaan cinta tumbuh. Saya ingin menjadikan ia sebagai kekasih.
Pacar lah kalau dalam bahasa anak muda sekarang.
Karena cinta saya itu, saya mencoba
mendekatinya dengan sedikit memberi perhatian kepadanya. Tidak lupa, sebagai
orang yang masih meyakini adanya tuhan, saya berdoa kepada tuhan agar apa yang
saya inginkan bisa terpenuhi, menjadikan ia sebagai kekasih. Bahkan saya pernah
melakukan istikhoroh seperti yang telah diajarkan oleh salah satu dosen
dibangku kuliah.
Alhasil, usaha saya belum
membuahkan hasil. Beberapa hari setelah saya mencoba mendekatinya ia mulai
menjauh dan apatis terhadap perhatian saya. Dan dari hasil istghoroh yang saya
lakukan, sepertinya tidak mengarah pada kebaikan. Bahasa sederhananya, saya
mungkin tidak cocok dengan dia.
Dalam hal usaha mungkin cara saya
yang masih belum bagus sehingga ia berlagak apatis terhadap saya. Wajar karena
segala sesuatu ada caranya.
Hati saya berontak setelah
istikhoroh. Saya kesulitan mencari alasan mengapa hasil istighoroh saya seperti
itu. Saya tidak tahu, kalau hasil istighoroh saya benar, mengapa tuhan tidak merestui
saya dengan wanita itu?
Dalam hati saya tidak mengimani
hasil istighoroh itu. Tidak mungkinkah dengan usaha dan doa saya kepada tuhan
akan menghasilkan kebaikan jika suatu saat saya mendapatkan wanita itu? itu lah
pertanyaan yang masih ingin saya tahu jawabannya.
Saya menyakini, tuhan memberikan
saya akal, usaha lebih berperan, dengan catatan, tanpa harus sepenuhnya
meninggalkan tuhan sebagai pemeberi kehendak dan yang menakdirkan segalanya. Saya
menyakini bahwa tuhan telah menciptakan prosedur-prosedur alamiah. Jika itu
saya jalankan, maka hasilnya akan sesuai dengan apa yang saya lakukan. Dan doa
saya kepada tuhan agar saya dimudahkan dalam menjalankan proses alam itu.
Pada contoh yang pertama mungkin
akal sehat orang-orang masa kini akan menolak jika yang saya putuskan adalah
berpasrah diri tanpa usaha apapun. Tidak mungkin tuhan memberikan saya se abrek
uang tanpa melalu perantara, yaitu kerja. Pada contoh kedua, haruskah saya
berhenti melangkah karena ada isyarat bahwa apa yang saya ambil tidak baik?
Jika saya memutuskan untuk berhenti
mengejar wanita itu, itu artinya saya menyakini bahwa tuhan sepenuhnya menentukan
diri saya secara mutlak tanpa campur tangan saya. Apa yang membedakan contoh
pertama dan kedua jika saya harus mengambil sikap yang berbeda dengan masalah
yang pertama?
Saya meyakini, bahwa tuhan tidak
menentukan tindakan manusia secara mutlak. Melainkan ia memberikan daya kepada
manusia untuk bertindak sesukanya. Hal ini sejalan dengan apa yang telah
diyakini kaum Asy’ariah.
Sebagai konsekuensi dari perbuatan
itu, tuhan menciptakan prosedur alamiah yang harus di lalui oleh manusia. Jika
saya (dan semua manusia) berjalan sesuai prosedur alam, maka tuhan akan
memberikan kebaikan pada pada saya. Isyarat yang ada dalam istighoroh saya
dengan sendirinya tidak akan berlaku. Tapi, sekali lagi, saya tidak boleh
pergi meninggalkan tuhan agar daya tuhan yang diberikan kepada saya selalu
cukup.
Sebagai refleksi, bagi saya, dan
saya meyakininya, bahwa tuhan tidak sepenuhnya diam dengan tindakan manusia.
Karenanya, melupakan tuhan dalam setiap hal tidak akan membawa kebaikan. Sebaliknya, tuhan tidak memberikan
kebebasan yang sebebas-bebasnya. Hasil manusia yang menentukan, tergantung
bagaimana proses alam yang dibuat oleh tuhan dijalani.
Kurang bijaksana, jika tuhan
menentukan segala tindakan manusia sementara di sisi lain ia memberikan akal
kepada manusia untuk berfikir. Saya rasa begitu.
Ashaduallailahaillallah
Waashaduanna Muhammadan Rosulullah.
Semarang, 30 November 2013
Note: Terakhir, saya mengucapkan
teriakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak terkait \yang telah
menginspirasi saya untuk membuat tulisan pendek ini. Syukur saya kepada tuhan
karena telah memberi saya kehidupan dengan warnanya yang beraneka ragam. Terima
kasih saya juga kepada kompasia. Karena kompasia, saya bisa membaca tulisan
Rovo Samantha. Tidak lupa terimaksih saya kepada Anissa Gina Nazda, Karena kamu
pula tulisan ada dan dibaca oleh orang. Tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin
mengabadikan kisah hidup saya. Kamu adalah inspirasi saya dalam tulisan ini.
You are My Inspiration. Sukses buat saya, buat kamu dan buat kita semua. Amin.
No comments:
Post a Comment