![]() |
| Google Photo |
Kalau judul di atas saya tulis empat tahun yang lalu,
ketika saya masih duduk di sekolah menengah atas dan ketika itu saya masih
tinggal di pesantren, mungkin saya telah dikecam banyak orang. Saya mungkin akan
dianggap murtad, syirik dan kafir. Bahkan, pak kyai mungkin tidak segan-akan
mengeluarkan saya dari pesantren.
Secara kultur, masyarakat di daerah saya menganut
Nahdatul Ulama (NU). NU tulen kalau boleh saya katakan. Tidak usah sampai
kepada pernyataan di atas, dulu ketika teman saya mau mengadakan diskusi keislaman
dilarang habis-habisan karena diskusi tersebut di pelopori oleh Harakah Sunnyah
Untuk Masyarak Islam (HASMI), salah satu gerakan islam indoenesia yang
tergolong fundamental.
Dalam kultur masyarakat yang demikian, tata tidak
boleh memiliki pkamungan yang (agak) berbeda jika ingin diterima di masyarakat.
Maka dalam hal ini menjadi menjadi penting menjaga pembicaraan. Dalam arti
harus tahu kontek sosial dimana kita harus mengemukakan pendapat.
Kenyataan tersebut berbanding terbalik dengan daerah
yang saya tempati sekarang, Semarang, dimana terdapat beragam paham tentang
islam. Khususnya di perguruan tinggi IAIN tempat saya belajar, terlebih
Fakultas Ushuluddin. Fakultas yang oleh sebagian masyarakat tak jarang dianggap
menyesatkan karena materi perkuliahan yang diajarkan identik dengan kebebasan
berfikir.
Pemikiran liberal, menggugat otoritas tuhan,
membongkar keimanan (walaupun sebagian yang saya sebutkan tidak disajikan
secara secara langsung) adalah salah satu materi yang di ajarkan di fakultas
ushuluddin. Teman saya pernah berujar, bahwa kuliah di ushuluddin tidak “berhasil”
jika tidak pernah mengalami liberalisasi pemikiran.
Alhasil, mahasiswa IAIN khususnya ushuluddin sangat
menghargai (walau tidak secara keseluruhan) pluralitas. Pebedaan adalah sebagai
rakmat. Yang terpenting bagaimana kedamaian itu berjalan dengan baik walau
berbeda iman.
Tulisan ini adalah bagian dari kegelisahan saya
sebagai orang awam yang ditakdirkan untuk mengenyam pendidikan di Fakultas
Ushuluddin. Saya menduga, sedikitnya ini adalah bagian dari leberalisasi pemikiran. Sebab, kalau saya menoleh mundur
ke empat tahun yang lalu misalnya,
rasanya, saya tidak akan
mengatakan hal demikian. Orang-orang di daerah saya mungkin akan menyebutnya murtad.
Begitupan saya ketika itu.
Saya melihat dan bahkan merasakan sendiri bahwa cinta
(saya) kepada tuhan tidak melebihi cinta kepada yang lain. Begitupun cinta saya
kepada nabi Muhammad.
Seseorang yang mencintai, cinta pada apapun itu, akan
menjadikan orang itu selalu ingat kepada yang dicintainya. Cinta kepada seorang
wanita akan dibuktikan dengan selalu mengingat, berkorban, bahkan akan
melakukan apapun untuk si wanita. Cinta kepada harta akan menjadikan harta
segala-galanya. Dimanapun dan kapanpun yang ada dipikirannya hanya bagaimana
mendapatkan harta yang melimpah. Begitupun cinta kepada jabatan. Orintasi dalam
hidupnya tidak lain kecuali ia mendapat jabatan dan kedudukan tinggi
dibandingkan yang lain.
Bagaimana dengan cinta kepada tuhan, bagaimana cinta
kepada muhammad dan bagaimana cinta kepada agama?
Rabiah Al Adawiyah, sebagaimana yang saya baca dari
beberapa literatur, dan entah benar atau tidak, Ia adalah seorang pecinta
sejati . Ia rela tidak berkeluarga karena takut menduakan cintanya dengan
tuhan. Ia takut, mencintai makluk tuhan akan mengurangi cintanya kepada tuhan. Hingga,
kabarnya, sampai Rabiah Al Adawiyah meninggal, ia lebih memilih hidup sendiri,
tanpa seorang pendamping.
Itulah hakikat cinta. Mengingat, mendekat, setia dan
berkorban untuk orang yang ia cintai.
Sebenarnya banyak hal untuk mengeksresikan rasa
cinta. Begitupun kecintaan terhadap tuhan. Kita tidak harus melakukan apa yang
telah di lakukan oleh Rabiah. Cinta kepada tuhan bisa diekspresikan dengan yang lain. Seperti menjadi pemimpin
yang baik, seorang pengusaha yang baik, seorang pedagang yang baik, seorang dosen
yang baik, seorang da’I yang baik, seorang pejuang yang baik dalam lain
sebagainya.
Tak jarang orang berdalih dengan alasan demikian. Tapi
benarkah bahwa apa yang mereka lakukan hanya dan demi tuhan dan agama. Jika
diprosentasekan, berapa persen karena tuhan dan berapa persen karena dunia dan
nafsu. Hanya mereka yang bisa menilainya.
Saya hanya ingin mengatakan apa yang telah saya
rasakan. Bahwa selama ini cinta saya kepada tuhan tidak lebih dari cinta saya
kepada yang lain. Cinta saya kepada Nabi Muhammad tidak lebih dari ketika saya
mencinta wanita yang menarik perhatian saya. Saya selalu mengingat dia,
berusaha berkorban untunknya, merelakan waktu untuk menemani dan menemuinya,
menunggu kabarnya walau sekadar melalui pesan singkat dari telpon seluler. Kebahagiaan
yang lebih ketika bercakap dengan saya dibandingkan ketika saya mendengar suara
azan atau shalawat kepada nabi.
Bahkan tak jarang ketika saya dalam keadaan menghadap
kepada tuhan, dia datang dalam bayangan. Betapa marahnya tuhan karena saya
telah menduakanya, menyisakan cinta yang sedikit untuknya. Bahkan tidak sama
sekali. Beribadah hanya karena kewajiban dan karena sering ditakut-takuti oleh
siksanya kelak setelah mati.
Saya berani mengatakan demikian karena ini benar adanya.
Betapa tuhan telah banyak membuat janji untuk “kencan” melalui puluhan shalat
sunnah yang Ia anjurkan, melalui ayat-ayatnya untuk dibaca dan melaui berbuat
kebaikan kepada orang lain. Kalau saya memang benar cinta mengapa saya tidak
selalu rindu untuk menjumpainya? Dalam cinta yang berlaku bukan lagi kewajiban,
tapi kerinduan dan kenikmatan saat berjumpa.
Jika saya cinta saya akan selalu tergesa-gesa untuk
bertemu dengannya. Dan ini tidak terjadi kecuali sebuah janji dengan seseorang
yang saya cintai. Cinta saya kepada tuhan tidak melebihi cinta saya kepada
seorang wanita.
Mungkin kamu juga mengalami hal yang sama. Dan ketika
salah seseorang bertanya, kamu akan berdalih dengan alasan-alasan logis, bahwa
apa yang kamu lakukan adalah bagian dari ekspresi cintamu pada tuhan. Kamu akan
mengemukakan dalil-dalil yang mendukung pendapatmu, kamu akan bermain kata dan
lain sebagainya.
Mencintai atau mengimani tuhan lebih dari sekadar
kata. Saya menyebutnya ungkapan perasaan yang disertai tindakan. Perasaan cinta
yang tak tertahan seperti ketika saya merindukan wanita yang saya cintai,
itulah cara mencintai tuhan dan Muhammad. Tindakan yang dilakukan oleh seorang
pecinta, memperlakukannya dengan baik, tidak ingin menyakitinya.
Takut seperti ketakutan melakukan kesalahan, yang
mungkin akan membuat saya terpisah jika itu saya lakukan, terhadap kekasih (wanita).
Hal ini dibuktikan dengan tindakan yang baik kepada setiap orang tanpa melihat
siapa dia. Kecuali tuhan sebagai satu-satunya alasan.
Keimanan saya kepada tuhan yang telah saya lakukan
mungkin hanya satu hal. Hal ini sebagaimana telah saya sampaikan dalam tulisan
saya yang berjudul “Mengapa Aku Moderat, Antara Takdir Tuhan dan Usaha Manusia”.
Aku berangkat ke daerah orang dengan satu keyakinan bahwa tuhan akan meberi
saya jalan dalam hidup saya. Akhirnya, selama 3 tahun lebih saya di luar
daerah, sampai saat ini saya masih diberi kehiudpan oleh tuhan. Selalu ada
jalan untuk memenuhi kebutuhan. Inilah kenikmatan saya, merasakan dengan
sepenuh hati bahwa tuhan selalu bersama saya.
Seperti juga yang telah di alami teman saya. Entah
benar atau tidak, saya hanya mendengar cerita darinya. Ia merasakan kenimatan
ketika membaca Al Qur’an. Karena
kenikmatan itu, ia selalu berhasrat untuk membacanya. Ia tidak bisa meninggalkannya
walau hanya satu hari. Apa lagi dua hari, seminggu, sebulan atau bahkan satu
tahun. Tentu menjadi hal yang sulit. Inilah cinta. Inilah iman dan sejatinya
iman. Yang bermain adalah perasaan yang menyebabkan gelisah jika tidak
dilakukan.
Selebihnya, apa yang saya lakukan hanya ritual dan mengikuti
kebiasaan orang banyak. Karena ada siksa dan ganjaran atas apa yang saya lakukan. Bukan benar-benar atas dasar cinta dan kenikmatan dalam
melakukannya.
Perbuatan yang dilakukan secara terpaksa hanya menjadi
beban. Yang ada bukan cinta, tetapi kebencian karena dianggap menggangu
aktifitas yang ia cintai.
Secara konsep pengetahuan, saya menyakini apa
perintah tuhan dan apa larangan tuhan terhadap saya dan orang islam secara umum.
Namun tindakan saya jauh dari itu semua. Saya belum menemukan kenikmatan dalam
beribadah yang berujung pada keinginan untuk melakukannya secara terus menerus.
Apa anda juga demikian, saya tidak tahu. Hanya anda yang bisa menilainya sendiri. Semoga tulisan ini semakin memperbaiki iman kita semua. Iman Yang sejatinya iman. Berbuat karena cinta dan kenikmatan saat berjumpa.
Semarang, 01 Desember 2013
Note : Terima kasih saya buat tuhan yang telah memberikan kehidupan buat saya hingga tulisan ini ada dan dibaca oleh orang.

No comments:
Post a Comment