Pertama kulihat dirimu, ketika kau
hadapkan muka ke kiblat disebuah musolla kecil di pesantren. Dengan temanmu,
kau akan memimpin jama’ah. Aku melihatmu dari jendela dengan kaca hitam.
Kutempelkan wajahku hingga jelas bahwa kulihat engkau di dalam. Engkau terhenti.
Rupanya kedatanganku membuatmu terganggu. Tak ada niat untuk mengganggumu. Kamu tersenyum lebar, sedikit melepas tawa. Rupanya kehadiranku menjadi lelucon hingga kau tak marah padahal engkau terganggu.
Rupanya kedatanganku membuatmu terganggu. Tak ada niat untuk mengganggumu. Kamu tersenyum lebar, sedikit melepas tawa. Rupanya kehadiranku menjadi lelucon hingga kau tak marah padahal engkau terganggu.
Tak kulihat engkau sebagai sosok yang
lebih ketika itu. biasa saja, aku sebagai kakak kelas di madrasah tsanawiyah
dan sebagai orang yang lebih dahulu di pesantren dibanding engkau. Baru
beberapa minggu orang tuamu mengantarmu kepesantern ini.
Waktu berlalu. Kulihat engkau dengan beberapa
temanmu latihan menyanyi. Dari halaman bawah, kusambangi dirimu lebih dekat
dari pantulan suaramu melalu alat pengeras di lantai dua gedung sekolah itu. Semakin
jelas, kau menyanyikannya dengan sangat merdu. Diringi dengan lantunan musik,
engkau menari dengan lentik. Dibelakang, temamu mengikuti. Kuperhatikan engkau.
Sesekali kau tertawa karena kesalahan yang kau perbuat.
Aku suka suaramu. Baru kutahu engkau
orang berbakat. Kuperhatikan wajahmu. Kurasakan setiap aliran darah yang
mengalir di tubuh, engkau benar-benar dekat hingga membuatku senang jika terus
menerus memandangimu. Aku sadar, rupanya sihirmu membuatku tak dapat tidur.
Memikirkanmu adalah hal paling kerap kurasakan. Kalah saing mata pelajaran
disekolah, ia membuatku pusing.
Kurasakan itu berhari-hari, berbulan
hingga bertahun-tahun. Aku benar-benar ingin mengenalmu.
No comments:
Post a Comment