Kata itu keluar dalam jendela media
sosial Facebookmu malam itu. Entah untuk siapa kata itu kau ucapkan. Yang
pasti, akuhanya membayangkan betapa teriris hati seseorang yang kau maksud jika
ia membacanya. Hatinya akan terluka, tersedu dengan tangis. Sementara hatimu
tertawa bangga tanpa memerdulikan. Barangkali.
Setatusku sebagai lelaki membayangkan
seandainya kata itu keluar untukku. Tak ada lain yang akan keluar dari lisan
dan kalbu paling dalam kecuali sebuah kebencin yang sangat. Terlalu berani bagi
orang sepertimu mengata demikian. Sebuah kecongakakan yang tidak beretika yang
keluar dari mulut wanita.
“Kau terlalu radikal,” kataku kemudian
sembari mengintip jendelamu yang lain untuk mencari hubungan kalimat tentang
apa yang baru saja kau katakan. Nihil.
“Apanya yang radikal? Hanya status gila,
luapan rasa jengekal saja” jawabmu.
“Belajar sastra untuk mengindahkan kata,
agar setiap luapan emosi menjadi keindahan yang tak tampak kebencian. Namun,
itu dirasa sebagai sebuah ultimatum,”
Diseberang sana, kau berfikir, mencari
kata untuk kau ucapkan. Beberapa menit berlalu kau kembali berkicau.
“Iya, ini saya lagi eror saja, serba
ngawur. Yang penting cukuplah sebagai katarsisku,” katamu kemudian.
Sepetinya kau mengamini kataku.
Kau pecinta sastra. Begitupun aku walau
karyaku mungkin tak sepadan jika diperbandingkan. Kecerdikanmu mengolah kata
adalah keindahan yang dapat menyihir pikiran pembaca. Tapi kali ini sastramu
tak berlaku. Tak melebur jika luapan emosi menyambangimu.
Padamu ku katakan:
“Tidakkah kau tahu, kata itu menjadi
pisau pengiris paling tajam untuk memutar keadaan menjadi negasinya?”
“Dan itu yang kumau, agresif sedikit,
boleh lah,” jawabmu angkuh.
Kau benar-benar dilanda kebencian. Namun,
Aku tak peduli seberapa besar kebencian itu. Yang jelas dan yang ku pahami, kata itubagian dari penghinaan tingkat akut. Mencederai
kebebasan ekspresi natural, membunuh mental dan mencerca kepribadian.
“Itu egois namanya,” bantahku.
“Biarkan saja aku egois untuk malam ini
meski kata itu akan membekas seumur hidup untuk dia yang aku benci,”
Satu hal yang masih ku ingat tentangmu di
hari yang lalu. Beberapa kali kau bertanya soal agama, filsafat, penafsiran dan
lainnya. Keinginanmu untuk tahu banyak hal masih membekas dan membuatku
berdecak kagum. Membantumu dalam segala hal yang kau rasa sulit mendapatkannya
adalah inginku setelah itu. Pernah kau ku bawa kepada salah seorang teman untuk
berdiskusi tentang filsafat.
“Kalau saya lihat, dia memiliki
keingintahuan yang sangat besar,” ujar temanku setelah beberapa saat kau pergi
usai diskusi kecil di malam itu.
Aku mengamini kata-katanya. Dari caramu
bertanya, aku melihat kau memang demikian adanya. Pertanyaanmu detail dari A ke
Z hingga kau benar-benar mengerti maksud suatu gagasan yang keluar dari bibir
temanku. Aku di sampingmu ketika itu.
Kau yang cinta pengetahuan. Kau yang
cinta seni dan keindahan. Baru saja aku mendengar kata transparan berupa
penghinaan. Barangkali ini adalah sisi lain kepribadianmu dan baru kukenali
malam ini.
“Jika
kontekstualisasi selalu di kedepankan setidaknya bukan hanya untuk menafsirkan
kitab suci. Melainkan untuk menafsirkan hidup dan kata dalam kehidupan. Kata
mulut, kata hati, gerak, diam dan segala hal yang bermaksud dan bermakna,”
sindirku.
“Iya, sepakat. Tapi, terkadang manusia
kalah dengan ego dari pada superego, sebagaimana teori Freud,”
Sepertinya kau mulai paham dengan apa
yang kumaksudkan. Walau sejatinya kau
tak begitu menerima dan bermaksud melakukan pembelaan.
“Menyadari bukan untuk dikata dan sekadar
menjadi wacana tak bermakna karena minus tindakan nyata. Menata kembali,
membuat regulasi diri, berkata dan bertindak sesuai nurani ilahi,” tambahku.
Engkau diam. Entah apa yang kau lakukan
diseberang sana. Mencari kata, menerka makna, atau barangkali engkau membenci
kataku. Dan setelah setelah itu engkau pergi atau tertidur pulas karen malam
mulau larut. Entahlah.
Engkau wanita kelabu yang kucari kunci
hidupnya. Setelah itu semuanya akan jelas, engkau pantas atau tidak menjadi
bagian dari pewarna hidup, mendengarkan kabar gembira, keluh kesah, dan menjadi
seorang pencerita handal tentang perjalananku setelah aku di akhir waktu.
Aku diam bukan tanpa gerak. Lamat-lamat
aku belajar tentangmu dan kepribadianmu. Salah satunya memahami setiap kalimat
yang keluar melalui media sosial modern itu.
Aku juga mengoleksi beberapa kata-katamu
yang telah berlalu. Untuk apa? Ya, untuk melacak aktifitasmu. Karena setiap status
adalah gambaran dari kehidupan seseorang. Ada waktu dan setting sosial. Dari sana aku belajar tentangmu.
Menghubungkan kalimat demi kalimat yang kau tulis dengan alat elektronik guna
menemukan keutuhan makna.
“Diam-diam mengahnyutkan,” katamu dalam
komentar status Facebookku di lain kesempatan.
“Ya, diam-diam aku menjadi sorang intelejen
yang menyadap pembicaranmu,” gumamku. “Kalau diam ya diam, bagaimana mungkin
menghanyutkan,” aku berkilah.
Engkau mengerti. Kemudian engkau
memperjelas perkataanmu. Aku diam dan setelah engkau pergi tanpa sebuah pesan
yang berarti.
Tentangmu wanita kelabu. Kutemukan sisi
lain darimu malam ini. Akankah kata lain kutemukan di malam-malam berikutnya.
Aku Setia menunggu.
No comments:
Post a Comment