Tiada yang lebih baik dari kita hanya memberi nasehat dari pada ikut campur atas kesalahan orang lain sedang masalah itu sama sekali tak ada hubungan dengan kita. Apalagi sampai mengusik dan menganggap sebagai orang salah nomer wahid. Lantas kita enggan bergaul, menganggapnya buruk dengan mengklaim hanya kita orang baik. Egois!
Ada golongan orang yang pandai berbicara dan meyakinkan sangat baik sehingga siapapun yang mendengar akan percaya dan yakin atas apa yang ia katakan.
Tetapi dibalik itu ia menyembunyikan banyak hal yang ketika siapapun mengetahui
maka bisa saja ia tak akan lagi menjadi orang yang bisa dipercaya. Secara
pandangan sekilas mungkin kita akan menyebutnya munafik ketika kita tahu
dibalik itu ada satu, dua atau bahkan banyak yang disembunyikan. Bisa saja kita
menyebutnya sebagai sebuah pencitraan karena akan menguntungkan dirinya. Hal
itu karena penilain subyektif yang kita lakukan terhadap dirinya. Penilaian objektif
terhadap orang tersebut bisa menimbulkan dua penafsiran.
Pertama, jika yang dibicarakan tidak menyangkut atau ada hubungan
dengan apa yang ia sembunyikan maka orang yang mendengarkan hanya akan
membatasi diri dengan tidak meniru apa yang telah ia lakukan. Tapi hanya
mengambil hikmah dari apa yang ia katakan. Para ulama juga sempat menyinggung Khudzilhikmata
walau min dzuburil khinziir, ambillah hikmah walau ia keluar dari dubur
anjing. Kedua, jika yang dibicarakan ada hubungan dengan kejelekan dirinya maka bisa
dipastikan pembicaraan itu bagian dari pencitraan untuk mengelabuhi lawan
bicara bahwa ia orang buruk yang ingin dianggap baik.
Tak ada orang yang murni baik dan tidak ada orang yang murni
buruk. Karena dalam diri manusia ada dua dorongan potensi yaitu baik dan buruk.
Kita tidak bisa menafikan bahwa dua potensi itu pernah dilakukan oleh setiap
orang lantas. Dan kekacauan akan terjadi jika kita tidak bisa memetakan kedua
potensi itu, dari sudut mana kita memandang sebagai orang yang tidak mungkin
lepas dari hubungan sosial. Barangkali ini hal ini bisa diperkuat dengan
kenyataan bahwa karena kebijaksanaan tuhan, seluruh aib kita tidak
diperlihatkan kepada setiap orang yang kita jumpai. Kenyataan ini mungkin
terlihat absurd. Tetapi, sebagai orang yang masih percaya terhadap agama dan
tuhan, kita akan sulit menyangkal kenyataan yang sejatinya hanya ada dalam
pikiran itu karena belum ada survey dan kita menemukan data empiris penelitian.
Memetakan dua potensi yang saya maksud ialah dengan tidak
menyamaratakan setiap persoalan harus dipandang dalam sudut pandang yang sama. Salah satu pengibaratan, misalnya, kita akan mungkin akan dianggap salah jika
menganggap orang yang tidak mendirikan ibadah sholat sebagai orang yang buruk dan kita enggan bergaul dengannya. Padahal
secara laku sosial yang tidak pernah melanggar etika yang ada. Atau kemudian
tidak mempercayai orang tersebut ketika bebicara masalah pengetahuan dalam
agama. Padahal jika ditelusuri berdasarkan sumber agama, apa yang ia bicarakan
benar dan berdasarkan sumber-sumber yang diakui kebenarannya.
Dan kita mungkin telah banyak melihat kesalahan dalam menilai
itu terjadi dilingkungan kita. Dalam sekala nasional kita bisa melihat misalnya
bagaimana ulama terkenal seperti AA Gym bisa tidak lagi ngetren hanya
karena ia telah melakukan poligami. Atau dilingkungan kita sendiri, seseorang
bisa enggan bergaul dengan salah seorang teman setelah kita tahu bahwa ia
seorang ‘bajingan’, pemabok, atau ‘penjahat’ wanita. Dan kita membecninya
habis-habisan. Atau menceritakan keburukannya pada teman kita yang lain atau
setiap orang yang kita temui di jalan.
Dari sudut pandang mana kita menilai akan memepengaruhi cara
kita bersikap. Jika kita memetakan permasalahan maka kita
tidak akan pernah mengusik keburukan orang lain. Karena kesalahan yang
ia lakukan tidak mengusuk dan merugikan diri sendiri atau orang lain. Kita pun akan merasanya
nyaman bergaul dan selebihnya kita bisa mengambil hikmah, pengetahuan dan apa
yang dia tahu sedang kita tidak tahu. Sebaliknya jika kita menilai dari sudut
pandang yang menyamarakatakn setiap kesalahan untuk dijadikan alasan
menghujat, membenci dan memutus hubungan, maka tak akan ada keharmonisan sosial
karena masing-masing dari kita punya aib dan kesalahan. Dan jika itu terjadi,
kita yang juga tidak bisa dinafikan punya aib, akan selalu salah dimata orang
karena pandangan demikian kita gunakan.
Maka yang terpenting dari kita hidup di dunia ini ialah bagaimana
meningkatkan kompetisi menjadi baik, baik menurut tuhan atau menurut manusia
dengan tidak mengusik keburukan orang karena ingin dianggap yang paling baik.
Dan sejatinya dakwah agama tidak turun menjadi sebuah paksaan. Melainkan hanya
seruan.Tinggal kita mau ambil seruan itu atau tidak, semuanya memiliki
konsekuansi sendiri. Sangsi sosial adalah salah satu konsekuansinya. Tetapi jika
sangsi itu akan memutus kehamonisan dalam hidup ber-sosial maka alangkah lebih
baik jika konsekusnsi itu kita serahkan saja kepada si pembuat konsekuensi.
Catatan dini hari
Semarang, 06 Februari 2015

No comments:
Post a Comment