Saturday, 6 June 2015

GREEN WISATA INDUTRY, INILAH UPAYA SEMEN INDONESIA UNTUK LEBIH BAIK

Kita boleh menyangka, menduga dan menilai sesuatu yang kita lihat atau kita dengar karena itu bagian dari fitrah manusia. Tetapi sangkaan, dugaan dan penilaian itu tidak dapat dijadikan tolok ukur sebuah kebenaran sebelum dibuktikan dengan kenyataan.


Meminjam istilah yang dipakai oleh salah satu tokoh filsafat Etika Immanuel Kant, untuk memperoleh pengetahuan yang benar maka harus ada yang disebut dengan  a posteriori setelah  apriori. Yang disebut pertama adalah pengetahuan yang bersifat indrawi, faktualitas, sesuai dengan kenyataan bagaimana indra manusia membenarkan. Sedangkan yang kedua, a priori kebenaran berdasarkan akal. Kant menggabungkan dua sumber kebenaran itu sebagai kritik terhadap dua golongan emprisme dan rasionalisme.

Begitulah kiranya sebagai pemantik dari tulisan ini. Saya mungkin belum termasuk pengikut Kant karena selalu berasumsi berdasarkan konstruksi pemikiran lalu kemudian disimpulkan tanpa ada klarifikasi tertelebih dahulu. Akan tetapi saya tersadar, bahwa asumsi yang saya yakini kurang sepenuhnya tepat khususnya bila dikontekstualkan dengan acara yang saya ikuti, Wisata Green Industry yang dilaksanakan oleh PT Semen Indonesia pada tanggal 6 Juni 2015. Acara tersebut digelar oleh PT Semen Indoensia Tuban dengan menghadirkan 150 peserta dari berbagai daerah. Berdasarkan pemahaman saya, acara tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan bagaimana sebenarnya industri semen itu dikelola, dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat khususnya di sekitar pabrik tersebut.

Setiap orang, yang tidak tahu soal industri semen, maka kemungkinan besar akan menilai bahwa pabrik semen akan merugikan masyarakat berdasarkan danpak lingkungan yang dianggap akan merugikan masyarakat. Tanah gersang misalnya, polusi dan lain-lain. Penilaian demikian, demikian seperti yang saya alami sebelumnya, bersumber dari informasi yang kita peroleh secara tidak langsung, baik melalui media informasi  seperti koran dan televisi, atau dari mulut ke mulut yang tidak diketahui secara sumbernya. Terutama mengenai pendirian pabrik semen di rembang yang sejak beberapa tahun yang lalu, dimana, masih menuai kontroversi, sebagian pihak menolak dengan alasan tertentu dan sebagian yang lain menerima, menyetujui. Hingga kini, meskipun secara hukum sudah diketok, sisa-sisa kebencian akan terus menyisakan luka. Sampai kapanpun barangkali.

Saya tidak hendak membanding bandingkan antara rembang dan tuban. Tulisan akan bertutur sesuai dengan apa yang saya lihat dan tanyakan ketika saya mengikuti acara Wisata Green Industry. Tidak lain agar pembaca mengerti bahwa tidak selamanya industri, industri semen dalam hal ini, akan membawa efek negatif bagi masyarakat. Bagaimana perusahaan industri itu dikelola, sangat menentukan bahwa ia akan berdanpak positif atau tidak bagi masyarakat.

Lagi, Acara Wisata Green Industry membuka lebar-lebar mata dan pikiran saya untuk mengetahui yang senyatanya, yang saya lihat, yang saya dengar  untuk kemudian saya memberikan kesimpulan. Selama sehari saya, dan kawan-kawan peserta yang lain dimanjakan dengan pengetahuan mengenai dapur Industri Semen Indonesia Tuban.

Jarum Jam menunjuk ke angka 10.30 WIB ketika kami tiba di lokasi. Disana, masih di dalam bus, kami disambut salah satu humas PT Semen Gresik Indoensia Agrianti. Ia menjelaskan, semen Gresik Tuban memiliki dua jenis semen. Petama, Semen Curah. Kedua, Semen pack. Dalam proses produksi, semen gresik memiliki empat tahap: Penambangan, Crosing, pendinginan dan pengepakan.
Masih dalam bus yang kami tumpangi, kami menyusuri jalan area pelabuhan semen gresik. Di sanalah pabrik semen tuban melakukan aktifitas mengirim dan pemasukan barang. Tampak tumpukan batu bara seperti perbukitan di pinggir pelabuhan dengan asap yang masih mengepul. Batu bara itu digunakan sebagai bahan bakar pembutan semen. Tidak hanya batu bara, pabrik semen gresik juga menggunakan limbah pabrik rokok untuk bahan bakar.

Saya dan kawan-kawan dari semarang berangkat pukul 05.00 WIB. Sekitar 4 jam di perjalanan, pikiran saya dipenuhi berbagai pertanyaan-pertanyaan dansedikit kebimbangan, apa yang akan saya hadapi. Benarkah pabrik semen berakibat fatal bagi kerusakan lingkungan? Saya baru pertama kali mengunjungi pabrik semen dan sama sekali tidak punyagambaran mengenai hal itu. Tetapi dugaan saya berbeda ketika saya sudah sampai di lokasi. Gambaran saya sebelumnya sama sekali kurang tepat. Dan beberapa kenyataan yang saya lihat memberikan pengetahuan baru bagi saya, dan mungkin juga kawan-kawan yang memiliki pengetahuan yang sama seperti saya.

Pengelolaan semen Indonesia dituban di tanah seluas 797,4 hektar. Kami terus berjalan menyusuri dapur pabrik semen di dampingi beberapa guide yang membimbing kami.

Selepas dari pelabuhan, kami menuju area reklamasi lahan. Guide yang mendampingi kami menjelaskan kegiatan tambang pabrik semen Indonesia tuban, ada tiga kegiatan pertambangan: tambang batu kapur dan tanah liat sebagai bahan baku utama. Kegiatan semen Indonesia berusaha menjadi pabrik yang ramah lingkungan dan tidak melenceng dari aturan perundang-undangan.
Dipinggir jalan, tanpak pemohoman hijau hasil dari penanaman pabrik untuk menjaga keasrian linkungan. Selain itu untuk mengantisipasi debu yang kemingkinan beterbangan di udara.

DESA BINAAN
Usai dari reklamasi lahan kami diajak berkunjung ke salah satu desa binaan pabrik semen Indonesia. Inilah kontibusi pabrik semen untuk membantu perekonomian masyarakat. Ada dua kegiatan diantaranya, Sentra kerajinan batik dan one villge one program, satu desa satu program.

Kami tiba ke lokasi Sentra Kerajinan batik tepat pukul 12.00 WIB. Disana kami berdiskusi dengan Ibu Uswatun sebagai instruktur kerajinan batik. Dalam waktu sekitar 30 menit itu, Ibu Uswatun menjelaskan kontribusi semen indonesia siap pada masyarakat khususnya produksi batik. Tepatnya pada tahun 2007, pabrik semen indoensia tuban membantu pemasaran batik sehingga kebutuhan pasar semakin bertambah samapa ke manca negara seperti amerika dan eropa. Program desa binaan yang dilaksanakan oleh semen Indoensia meliputi, pelatihan, pameran dan wirausahan kepada masyarakat. 

No comments: