Kita boleh menyangka, menduga dan
menilai sesuatu yang kita lihat atau kita dengar karena itu bagian dari fitrah
manusia. Tetapi sangkaan, dugaan dan penilaian itu tidak dapat dijadikan tolok
ukur sebuah kebenaran sebelum dibuktikan dengan kenyataan.
Meminjam istilah yang dipakai oleh salah satu tokoh filsafat
Etika Immanuel Kant, untuk memperoleh pengetahuan yang benar maka harus ada
yang disebut dengan a posteriori setelah apriori. Yang disebut pertama adalah
pengetahuan yang bersifat indrawi, faktualitas, sesuai dengan kenyataan
bagaimana indra manusia membenarkan. Sedangkan yang kedua, a priori kebenaran
berdasarkan akal. Kant menggabungkan dua sumber kebenaran itu sebagai kritik
terhadap dua golongan emprisme dan rasionalisme.
Begitulah kiranya sebagai pemantik dari tulisan ini. Saya
mungkin belum termasuk pengikut Kant karena selalu berasumsi berdasarkan
konstruksi pemikiran lalu kemudian disimpulkan tanpa ada klarifikasi tertelebih
dahulu. Akan tetapi saya tersadar, bahwa asumsi yang saya yakini kurang
sepenuhnya tepat khususnya bila dikontekstualkan dengan acara yang saya ikuti,
Wisata Green Industry yang dilaksanakan oleh PT Semen Indonesia pada tanggal 6
Juni 2015. Acara tersebut digelar oleh PT Semen Indoensia Tuban dengan
menghadirkan 150 peserta dari berbagai daerah. Berdasarkan pemahaman saya,
acara tersebut bertujuan untuk mensosialisasikan bagaimana sebenarnya industri
semen itu dikelola, dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat khususnya di
sekitar pabrik tersebut.
Setiap orang, yang tidak tahu soal industri semen, maka
kemungkinan besar akan menilai bahwa pabrik semen akan merugikan masyarakat
berdasarkan danpak lingkungan yang dianggap akan merugikan masyarakat. Tanah
gersang misalnya, polusi dan lain-lain. Penilaian demikian, demikian seperti
yang saya alami sebelumnya, bersumber dari informasi yang kita peroleh secara
tidak langsung, baik melalui media informasi
seperti koran dan televisi, atau dari mulut ke mulut yang tidak
diketahui secara sumbernya. Terutama mengenai pendirian pabrik semen di rembang
yang sejak beberapa tahun yang lalu, dimana, masih menuai kontroversi, sebagian
pihak menolak dengan alasan tertentu dan sebagian yang lain menerima,
menyetujui. Hingga kini, meskipun secara hukum sudah diketok, sisa-sisa
kebencian akan terus menyisakan luka. Sampai kapanpun barangkali.
Saya tidak hendak membanding bandingkan antara rembang dan
tuban. Tulisan akan bertutur sesuai dengan apa yang saya lihat dan tanyakan
ketika saya mengikuti acara Wisata Green Industry. Tidak lain agar pembaca
mengerti bahwa tidak selamanya industri, industri semen dalam hal ini, akan
membawa efek negatif bagi masyarakat. Bagaimana perusahaan industri itu
dikelola, sangat menentukan bahwa ia akan berdanpak positif atau tidak bagi
masyarakat.
Lagi, Acara Wisata Green Industry membuka lebar-lebar mata
dan pikiran saya untuk mengetahui yang senyatanya, yang saya lihat, yang saya
dengar untuk kemudian saya memberikan
kesimpulan. Selama sehari saya, dan kawan-kawan peserta yang lain dimanjakan
dengan pengetahuan mengenai dapur Industri Semen Indonesia Tuban.
Jarum Jam menunjuk ke angka 10.30 WIB ketika kami tiba di
lokasi. Disana, masih di dalam bus, kami disambut salah satu humas PT Semen
Gresik Indoensia Agrianti. Ia menjelaskan, semen Gresik Tuban memiliki dua
jenis semen. Petama, Semen Curah. Kedua, Semen pack. Dalam proses produksi,
semen gresik memiliki empat tahap: Penambangan, Crosing, pendinginan dan
pengepakan.
Masih dalam bus yang kami tumpangi, kami menyusuri jalan area
pelabuhan semen gresik. Di sanalah pabrik semen tuban melakukan aktifitas
mengirim dan pemasukan barang. Tampak tumpukan batu bara seperti perbukitan di
pinggir pelabuhan dengan asap yang masih mengepul. Batu bara itu digunakan
sebagai bahan bakar pembutan semen. Tidak hanya batu bara, pabrik semen gresik
juga menggunakan limbah pabrik rokok untuk bahan bakar.
Saya dan kawan-kawan dari semarang berangkat pukul 05.00 WIB.
Sekitar 4 jam di perjalanan, pikiran saya dipenuhi berbagai
pertanyaan-pertanyaan dansedikit kebimbangan, apa yang akan saya hadapi.
Benarkah pabrik semen berakibat fatal bagi kerusakan lingkungan? Saya baru
pertama kali mengunjungi pabrik semen dan sama sekali tidak punyagambaran
mengenai hal itu. Tetapi dugaan saya berbeda ketika saya sudah sampai di
lokasi. Gambaran saya sebelumnya sama sekali kurang tepat. Dan beberapa
kenyataan yang saya lihat memberikan pengetahuan baru bagi saya, dan mungkin
juga kawan-kawan yang memiliki pengetahuan yang sama seperti saya.
Pengelolaan semen Indonesia dituban di tanah seluas 797,4 hektar.
Kami terus berjalan menyusuri dapur pabrik semen di dampingi beberapa guide
yang membimbing kami.
Selepas dari pelabuhan, kami menuju area reklamasi lahan. Guide
yang mendampingi kami menjelaskan kegiatan tambang pabrik semen Indonesia
tuban, ada tiga kegiatan pertambangan: tambang batu kapur dan tanah liat
sebagai bahan baku utama. Kegiatan semen Indonesia berusaha menjadi pabrik yang
ramah lingkungan dan tidak melenceng dari aturan perundang-undangan.
Dipinggir jalan, tanpak pemohoman hijau hasil dari penanaman
pabrik untuk menjaga keasrian linkungan. Selain itu untuk mengantisipasi debu
yang kemingkinan beterbangan di udara.
DESA BINAAN
Usai dari reklamasi lahan kami diajak berkunjung ke salah
satu desa binaan pabrik semen Indonesia. Inilah kontibusi pabrik semen untuk
membantu perekonomian masyarakat. Ada dua kegiatan diantaranya, Sentra
kerajinan batik dan one villge one program, satu desa satu program.
No comments:
Post a Comment