Seingat saya, malam ini
kali keempat saya bertemu dengan budayawan nasional asal Madura pak D. Zawawi
Imron. Kali pertama, perjumpaan dengan beliau ketika saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama sebuah acara seminar di pondok pesantren Mambaul Hikmah Bluto Sumenep.
Kali kedua ketika saya di bangku sekolah menengah atas di Madrasah Aliyah
Mashlahatul Hidayah. Saat itu, dalam acara yang sama beliau mengisi seminar di Madrasah Aliyah Al
Hikmah Bluto Sumenep. Dan kali ketiga beliau membacakan puisi pada perayaan hari ulang tahun
budayawan dan seniman nasional K. H Mustofa Bisri atau Gus Mus yang ke-70 di IKIP
PGRI Semarang (Sekarang UPGRIS) beberapa bulan lalu.
Untuk keempat kalinya, saya kembali dipertemukan dengan beliau dalam acara serasehan budaya dalam rangkaian acara memperingati hari lahirnya pancasila di kampus UIN Walisongo Semarang. Serasehan budaya diselenggarakan oleh Gerakan Mahasiswa Gotong Royong (Gemagong) di Audit II Kampus III UIN Walisongo tempat saya belajar.
Jika dalam
pertemuan sebelumnya saya hanya dapat melihat beliau dari belakang (tempat
duduk audiens), malam ini saya dapat mengabadikan kenangan walau sekadar dalam
sebuah gambar. Saya dan kawan-kawan Madura di Semarang sempat juga berjabat
tangan, bahkan memperkenalkan diri kami sebagai mahasiswa yang datang dari etnis yang sama,
Madura. Dan kami tidak dapat berbincang lama usai acara karena beliau harus segera kembali ke
sebuah penginapan di salah satu hotel di semarang. Hanya foto itu yang menjadi bukti
pernah dekatnya kami walau hanya sesaat. Dan saya bangga kepada belia, benih pengetahuan dan semangat beliau semoga menjadi cemeti yang selalu mencambuk kemalasan kami. Dan saya kira, kami abadi dalam salah satu
bait sajaknya:
“Kutinggal jejakku di sini
Dan senyummu kubawa pergi”
Dan senyummu kubawa pergi”
Dalam beberapa
pertemuan, termasuk pertemuan keempat ini ada satu hal yang, menurut saya,
yang tak pernah tertinggal dari sosok Zawawi di setiap pembicaraannya. Puisi Ibu selalu menjadi pamungkas yang, sepertinya, berusaha memangkas benih lupa yang secara sadar atau tidak mencoba kita lupakan. Peran seorang ibu dalam kehidupannya sepertinya ingin
selalu ia tularkan kepada pendengarnya.
Sosok
ibu, bagi Zawawi, benar-benar menjadi pahlawan yang menjadikannya
sampai seperti sekarang: seseorang yang hanya tamat dari Sekolah Rakyat (SR)
menjadi salah satu deretan nama yang cukup dikenal sebagai budayawan, sastrawan
dan seniman di tingkat nasional. Seperti diakuinya pula, puisi ibu yang dikarang pada
tahun 1966 itu pernah ia bacakan di Belanda. Ibu bagi Zawawi adalah bidadari
yang berselendang bianglala. Gambaran seorang ibu bagi Zawawi bisa dilihat pada
puisi berjudul ibu yang selalu ia bacakan pada setiap kesempatan:
IBU
kalau aku merantau lalu datang musim
kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur
bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap
lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan
sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa
kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemundian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduhtempatku mandi,
mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan
melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut
semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang
pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling
dahulu
lantaran aku tahuengkau ibu dan aku
anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang
bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku
1966
Dalam kesempatan apapun seorang ibu, bagi Zawawi tidak bisa tidak, tidak
boleh dilupakan. Hanya karena seorang ibu manusia berada, lahir, hidup dan tumbuh menjadi manusia dewasa. Bagaimana proses ibu
membesarkan anak, adalah bentuk kasih sayang yang tidak mungkin bisa
terbayar.
Para audiens yang hadir kemudian diajak merenungkan, membuka kesadaran, menjadi seseorang yang bukan diri sendiri, dalam pengertian menjadi “anaknya ibu”. Dari ibu seorang anak memiliki ikatan emosional yang kuat hingga karena ibu pula akan datang energi positif yang buat manusia terus menerus bangkit. Orang yang melakukan keburukan, seperti para koruptor, menurut Zawawi, juga karena mereka tidak pernah merasa menjadi “anaknya ibu”.
Dalam kesempatan
yang tidak lebih dari dua jam itu, pakde berbicara tentang nilai-nilai
pancasila sekaligus bagaimana mengamalkan nilai-nilai pancasila bagi rakyat Indonesia.
Fokus pembicaraan beliau ialah menghidupkan pancasila pada diri sendiri, salah
satunya dengan cara membersihkan hati. Lagi, menyadari diri bahwa kita adalah “anaknya
ibu”. “anak yang merasa putranya ibu akan mudah mengamalkan pancasila”.
Zawawi juga
menyindir para koruptor. Dua syarat koruptor sampaikan dengan candaan
dalam sebuah sebuah nyanyian: pertama, berani masuk neraka. Kedua, bisa
tersenyum dilayar televisi. Koruptor: “sebelum “duduk” dia jujur, setelah
dilantik ia koruptor. Koruptor adalah penghianat bangsa,”
Semarang, 01 Mei 2015

No comments:
Post a Comment