Kita dalam refresh, mendinginkan otak walau sejatinya
memang dalam keadaan dingin. Ya, kita yang tak pernah ada kerja di siang hari,
kecuali sedikit, setelah banyak hari kita lalui memanjakan diri untuk pergi,
jalan-jalan, makan-makan, duduk bersama dan macam-macam sesuai indra
penangkapan. Pekan Raya Batik Nusantara Pekalongan tempat menghibur diri malam
itu.
Kita beramai-ramai membanjiri sebuah lapangan di
pinggir jalan. Di sebuah hamparan luas penuh mutiara dan sampah. Mutiara karena
barangkali ada satu tujuan baik diantara kita dan orang-orang. Sampah, karena
satu pemanfaatan yang kurang mungkin kurang layak dipandang dan diperdengarkan.
Mungkin kita tak mengalami dan tak sadar saat seseorang
melakukannya di sekeliling kita. Atau sebaliknya kita yang melakukannya di saat
orang-orang dalam nikmat suasana. Hanya diri yang tahu, yang terbaik untuk hari
ini, besok, dan hari berikutnya. Untuk kita.
Lamat-lamat aku melihat, mendengar dan memasukkannya
dalam rasa dan pikir. Betapa bahagia ketika mulut lebar memperlihatkan barisan
gigi putihnya. Dan betapa sedihnya ketika dalam ramai masih sempat mendonggakan
dagu dengan tangan kiri atau kanan. Dari kedalaman hati, mungkin tuhan telah
mati, tuhan sedang dicari, tuhan sedang tidak memihak pada diri, atau dalam
sabar dan sadar menyakini bahwa tuhan masih menanti dan mereka sedang menacari.
Kita dalam sama. Sama tujuan walau mungkin beda maksud.
Sesekali ada senda dan sesekali ada diam untuk sejenak berpikir, diantara kita.
Dan ketika kelucuan terjadi, tawa kita pecah. Kita bahagia saat itu. Bahagia
walau untuk sementara, dan setelah itu pikiran kita dihantui oleh masalah yang
kita bawa dari rumah, kos, atau tempat kita berada saat ini.
Sesekali kita berpisah memecah pandangan, mencari objek
pemuas sepasang mata: menonton hiburan musik yang sajikan di pentas, mendengarkan
lirik yang sesekali selaras dengan perasaan yang kita alami, menonton ramai penonton
atau mendengar ragam sorak mereka. Malam ini kita bergembira atau dipaksa keadaan
untuk bergembira, walau hati mungkin sedikit kurang menerima itu.
Kita kembali ketika malam mulai beranjak. Membawa
setumpuk cerita dan kenangan untuk kita ceritakan ulang sewaktu-waktu. Satu hal
yang kita harus menyadarinya, sudahkah kita meninggalkan ‘luka’ yang kita bawa,
membuangnnya jauh dikeramaian itu. Dan kita merasa tenang, damai, tentram saat
selimut kita tarik, mata kita pejamkan dan saat mata itu kembali terbuka, kita
telah siap menyambut pagi dengan kerja-kerja-kerja dan pikiran positif? Semoga.
Baca Juga:
Memahami Hidup Secara Sederhana
No comments:
Post a Comment