Susah yang selalu basah dan selimpung kaki yang lelah
menjarah sejarah. Luka yang kerap dibalut amarah merekah, goyah, lemah lalu
roboh tertimbun oleh bongkahan resah.
Pasrah bukan salah, sebab lempeng tabah selalu dianggap
semestinya ibadah. Tuhankah yang menganggapnya, lalu aku, kita melakukannya,
atau sebaliknya, bahwa aku, kita sebenarnya sudah lelah dan menyerah.
Pasrah harus punya jaminan. Tabah harus punya alasan. Pasrah
karena seluruh kekuatan talah dikerah, tidak hanya sekali, berkali-kali, sampai
ada koreksi, sampai pikir dan hati tak dapat kalimat untuk dibagi.
Dan, tabah, sebab yang dianggap ibadah benar-benar telah
meluluh lantah, dari semula tangan dan kaki masih sudi menemani hingga hatipun
tak dapat lagi mendengar denyut nadi.
Dalam kesadaran terdalam, kita menjadi kuat karena selalu
diberi harap. Harap-harap tenang, harap-harap senang, harap-harap datang, dan
pula harap-harap cemas bagi musim: jika panas tak hujan atau jika hujan tak
gersang. Bangunlah karena harapan. Bangunlah. Bangun.
Bangun,
Bangun,
Bangun,
Dan, bangun
Lalu, bangun
Kemudian, bangun
Bangun!
Pagimu menunggu senyum.
No comments:
Post a Comment