Oleh Miftahul Arifin
Dimuat di Malang Pos, sabtu 26 Mei 2012
Penulis : Adhie M. Massardi, dkk
Penerbit : Republika Penerbit
Cetakan : Oktober, 2011
Tebal : Cover + 432 halaman
ISBN : 978-602-8997-38-6
Harga : 75.000
Cetakan : Oktober, 2011
Tebal : Cover + 432 halaman
ISBN : 978-602-8997-38-6
Harga : 75.000
Pengingkaran
seorang pemimpin terhadap realitas kehidupan masyarakat dan ambivalensi dalam
penegakan hukum menjadi sumbu masalah yang mengakumulasi kekecewaan dan
kemarahan rakyat. Dari sini, pemerintah mengalami krisis kepercayaan dan
terus-menerus mendapat kecaman dari masyarakat.
Inilah
potret pemerintahan SBY-Budiono yang digambarkan dalam buku ini. Ternyata, disamping
sikap dan posisi presiden yang amat menyakinkan untuk menegakkan hukum dan
menyatakan perang terhadap
korupsi, sistem pemerintahan amburadul pada tingkat implementasi. Skandal bank Century dan beberapa kasus mafia pajak dan proyek menjadi salah satu bukti kongkrit ketidaktegasan pemerintah.
korupsi, sistem pemerintahan amburadul pada tingkat implementasi. Skandal bank Century dan beberapa kasus mafia pajak dan proyek menjadi salah satu bukti kongkrit ketidaktegasan pemerintah.
Penantian
masyarakat akan janji pemerintah untuk menciptakan “harmonisasi”, menumpas
ketidaknyamanan hidup keluarga kelas menengah kebawah mungkin saja telah
menjadi bayang-bayang semu dan hampir terlupakan. Menurut bambang Soesatyo,
Anggota Komisi III DPR RI, telah terjadi percepatan dan proses eskalasi
ketidakpercayaan rakyat terhadap pemerintah. Dalam hal ini presiden dan
wakilnya. Sehingga, amat sulit bagi pemerintah untuk membangun kembali citra
dan kepercayaan masyarakat.
Dalam
hal ini, pemerintah pun terus masih berusaha
mengelak dengan mencoba menutupi kesalahannya melalu sistem politik yang
disebut dengan “politik pencitraan”. Dapat diltilik betapa sikap presiden SBY
yang secara tegas menolak pembangunan gedung mewah telah menimbulakan
pertanyaan besar. Jika presiden memang menolak pembangunan gedung tersebut,
mengapa ia tidak memerintahkan partai demokrat 100% menolak rencana gedung itu.
kalau memang presiden menolak proyek gedung baru karena dalih menghamburkan
uang rakyat, kenapa pula ia tidak menyetop pembayaran utang luar negeri
Indonesia kepada negeri-negeri imperialis. Mengapa pula ia tidak menyetop
kebijakan neoliberalnya. Bukankah sumber kemiskinan dan kesengsaraan rakyat
berasal dari sistem neoliberalisme atau imperialisme (hal. 323)
Sesungguhnya
masalah ini, sesuai dengan judul buku: Pilpres Abal-abal, Republik Amburadul,
merupakan efek dari ketidakjujuran pemerintah ketika ingin menduduki kursi
pemerintahan. Pemilihan Presiden (Pilpres) pada tahun 2009 lalu hanya sebagai
kedok bahwa negeri ini telah menganut sistem demokrasi. Berdasarkan beberapa
temuan, banyak sekali spekulasi yang sengaja dibungkus rapi oleh sistem politik
pemerintah yang dijalankan ketika itu.
Hasil
wawancara dengan Myjen (purn) Saurip Kadi menyebutkan bahwa pemilu yang lalu,
pemerintah telah banyak melakukan pelanggaran terhadap UUD. Pemerintah telah mengabaikan kedaulatan
rakyat sebagai salah satu elemen negara demokrasi. Menurut Myjen, terdapat
masalah dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) yaitu adanya ketidaksesuaian dengan
realitas penduduk di mana DPT itu diterbitkan. Banyak pemilih walau tercantum
dalam DPT namun tidak mendapat undangan. Banyak TPS fiktif yang dicontreng oleh
penguasa. Disisi lain, disamping Jual beli suara yang amat mudah dilakukan,
ternyata sedikitnya empat puluh juta jiwa telah kehilangan hak memilih. Dengan
kata lain, transparansi sebagai syarat mutlak negara demokrasi tidak lagi diindahkan
oleh pemerintah.
Sistem
politik yang “amburadul” itu disinyalir telah
berimplikasi pada rapuhnya kosistensi pemerintah dalam menjalankan tugas
sebagai kepala negara. Terbukti dengan menggurintanya beberapa kasus yang
hingga kini belum terselesaikan dengan baik.
Buku
Pilpres Abal-abal, Republik Amburadul ini merupakan sebuah refleksi atas
pemerintahan SBY-Budiono. Didalam buku ini dijelaskan banyak hal mengenai fakta-fakta
penyimpangan yang telah dilakukan SBY ketika ia mulai memimpin negeri ini
khususnya pada periode kedua, yakni pasca pemilu 2009. Mulai dari konstitusi
dan sistem pemerintahan yang semrawut, kebijakan Sumber Daya Alam (SDA) yang
bermasalah, Skandal Bank Century dan berbagai Politik pencitraan sebagai salah
satu langkah menutupi kesalahan kesalahan yang telah dilakukan. Bahkan pemerintahan
ini dianggap sebagai rezim terparah abaikan Pancasila.
Dahulu
zaman bungkarno masih mengerti pancasila. Zaman soeharto, tidak bisa tidak,
jelas pancasilais. Rezim sekarang tidak tahu indonesia mau dibawa kemana, TNI
dikandangi dan tidak boleh omong opo-opo, padahal kalau tidaka ada TNI
siapa yang mempersatukan karena sekarang liberal. Dengan kenyataan ini
menunjukkan indonesia nyaris negara gagal dalam segala hal(hal. 354).
Maka
benar apa yang disampaikan syafii Maarif dalam pengantar buku ini, “Jika dulu
yang dilawan adalah kekuatan asing yang menindas, sekarang ujung tombak
perlawanan ditujukan kepada siapa saja yang menindas, tak terkecuali elit
bangsa sendiri”. Ini menunjukkan bahwa, kini, bangsa indonesia tidak hanya
dihadapkan dengan masalah yang sifatnya eksternal. Melainkan lebih pada problem
internal ke-indonesia-an itu sendiri. Dan ini, lebih sulit dibanding melawan
penjajahan asing yang secara terang-terangan ingin mengeruk kekayaan indonesia.
Dengan
kata lain, kini, pemerintahlah merupakan musuh besar bangsa Indonesia yang
harus segera dilawan. Bagaimanakah betuk perlwanan yang harus kita lakukan?
Inilah tugas kita bersama. Semoga sukses.
Miftahul
Arifin, Pegiat Diros Pustaka (Depus) institute dan Peneliti Idea
studies Fakultas Ushuluddin IAIN Walisongo Semarang.

No comments:
Post a Comment