Tiga tahun aku sudah meninggalkan rumah. Pergi ke
sebuah negeri yang asing yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Barangkali
inilah yang disebut
dengan anugerahtuhan hingga aku bisa berfikir dan bertindak serta bercita-cita secara bebas. Di tempat itulah aku telah memulai kehidupan baru,
belajar bersosialisasi, menata diri, mandiri dan belajar untuk mengerti hakikat hidup. Di tempat itu akan mendapatkan banyak hal yang nantinya akan kubawa ke kampung. Tentu hal yang positif yang akan berdampak baik bagi kampungku.
Hal ini dilarbelakangi oleh keadaan kampung yang
selama ini tak lebih dari kampung comberan, kampung tertindas, kampung yang
hanya menjadi permainan penguasa. Kampung yang di pimpin oleh kepala desa yang
bejat. Bejat secara moral dan goblok secara ilmu pengetahuan. Tak tahu
kemajuan. Dan buta perkembangan luar.
Mereka diangkat jadi penguasa karena kekuatan mereka
yang dulunya dapat menggertak masyarakat. Mereka punya kekuatan, baik secara
fisik maupun ekonomi. Masyarakat diancam. Ia dibayar dengan uang yang
sesungguhnya adalah milik sendiri. Ketakukan masyarakat menjadikan ia terpilih
menjadi kepala desa.
Ya, begitulah. Kepala desa yang hanya ingin meningkatkan
popularitas.Sumpah serapah yang ia katakan di awal ia ingin menjabat tak lebih
dari buayan belaka. Masyarakat semakin miskin. Ia dimiskinkan karena sebagian
haknya dirampas untuk kepentingan sendiri. Di saat desa sebelah telah mengalami
berbagai macam perkembangan, baik dalam ilmu pengetahuan atau pembangunan,
desaku masih klasik. Ia berjalan seperti apa adanya. Yang jadi kuli masih tetap
pada kedudukannya, yang setiap hari pergi ke sawah menggarap tanah tak terlihat
perubahan.
Aku berfikir ini adalah tanggung jawabku sebagai anak
muda. Karena pemuda sejatinya adalah pemimpin masa depan. Aku tidak boleh
menjadi pemuda laiknya pemuda kebanyakan yang telah tumbuh di kampungku. Mereka
sudah banyak terpengaruh oleh ulah para penindas itu. Aku yang sudah pergi
beberapa tahun yang lalu, harus membawa kehidupan baru yang menjadikan
kampungku lebih maju.
Banyak hal yang harus aku lakukan. Mulai dari
mencerdaskan generasi muda yang ada di kampung hingga pada persoalan moralitas
yang sudah carut marut. Moralitas adalah hal utama yang perlu dibangun. Dengan begitu
penindasan, perampasan hak, dan kesewenang-wenangan tidak akan terjadi.
Aku akan memulai dari mengumpulkan orang-orang
potensial yang masih punya keinginan untuk maju. Kami akan bersatu melawan
penindasan. Menundukkan penguasa yang lalim. Kemudian menciptakan penduduk yang
bermartabat.
Setelah itu, aku akan mengembangkan pendidikan, lapangan
pekerjaan dan memeberikan soft skill untuk masyarakat. Mengubah kehidupan yang
semula klasik, melarat, menjadi kehidupan yang menyenangkan.
Aku sudah mulai berdiskukusi dengan salah seorang
teman. Aku mengagumi temankuku itu lantaran sejak awal aku mengenalnya, ia
sudah mulai merancang sebuah pembangunan di kampunya. Terutama juga pembangunan
moral. Ia mengumpulkan anak muda di kampungnya kemudian membentuk organisasi
pemuda yang secara spesifik membincang masa depan pemuda dan kampung. Misinya
tak lain menciptakan kehidupan yang bermartabat. Kampung yang cerdas dengan
mengembangkan sumber daya.
Rupanya tak begitu mudah jika membincang masyarakat
yang ada di desa. Dengan beragam pemikiran dan orientasi hidup yang mereka
inginkan, teramat sulit menyatuka visi tersebut. Salah satu permasalah mendasar
adalah, kita selaku konseptor harus siap dibenci, dicaci maki dan diperlakukan
secara tidak wajar.
Itulah yang harus aku persiapkan terlebih dahulu.
Menyiapkan diri menghadapi beragam tantangan yang harus kuhadapi. Tentu saja
permasalah di kampung yang aku anggap lebih besar dari masalah yang ada di
kampung temanku itu, barangkali yang akan menjadi taruhan adalah nyawaku
sendiri. Apa lagi berkaitan dengan kepala desa yang angkuh yang sekaligus juga
menjadi bos bajingan di kampungku.
Aku mulai merancang strategi. Salah satunya aku
menghubungi temanku yang juga sepertiku. Ia pergi ke sebuah negri yang cerdas
yang nantinya jiga akan mengembangkan kemampuannya di kampung. Aku sudah
memiliki teman yang memiliki satu misi denganku.
***
Kalau dilihat sepintas secara keamanan, kampungku
terbilang aman. Hal ini dapat kulihat dari tidak adanya pencurian sejak
beberapa tahun lalu ketika kepala desa yang sekaligus bos bajingan itu sudah
menjabat menjadi kepala desa. Namun, ya itu, lagi lagi sebenarnya masyarat
dibodohi dengan hanya meminta dan menuntut keamanan, tanpa menuntut hak lain
yang seharusnya ia dapatkan.
Hal lain yang terjadi, meskipun aman secara fisik,
justru yang menjadi korban adalah kampung lain. mereka menjadi korban kebejatan
orang-orang bejat di kampungku. Siang-dan malam kerusuhan hampir terjadi di
mana-mana. Siang hari adalah hari pertengkaran yang dipelopori olah anak muda.
Membuat ulah dimana-mana. Sedangkan malam hari yang terjadi adalah pencurian yang
membabi buta.
Akhirnya, siapa yang tak kenal kampungku. Kampung
yang terletak di daerah terpencil, terdiri dari perbukitan. Hampir seluruh
kampung dalam satu kabupaten mengenal kampungku. Sayangnya, ketenaran itu bukan
karena kampungku subur, bukan karena budaya yang bagus, bukan karena sosial dan
ekonomi yang mapan. Melainkan kampung penindas. Kampung yang menjadi tempat
persembunyian orang-orang penindas, maling, rampok, penjudi, pemabok dan lain
sebagainya.
Sebagai anak
muda yang lahir di sana aku terkadang merasa malu jika ditanya orang daerah
asalku. Sesekali aku ingin sekali mengelak dengan mengakui kampung lain sebagai
kampungku. Tap perasaan tetap tidak menerima. Bagaimanapun ia adalah kampungku.
Kamping yang menjadi asal mula aku hidup, dan dilahirkan di sana. Mencintai
kampung sendiri seperti halnya nasionalisme, mecintai tanah air.
Oleh karena itu, yang terpenting yang harus aku
lakukan adalah merubah citra jelek yang selama ini telah melekat pada
orang-orang harus aku rubah hingga kembali mendapat cirta yang baik. Dengan
cara menumbangkan pemerintahan yang sewenang-wenang dan menggantinya dengan
pemerintah yang sholid dan memihak kepada masyarakat kampung.
Tentu saja ini membutuhkan tenaga yang menguras.
Karena akan ada pihak yang tidak menerima terutama dari pihak oposisi. Yakni,
pihak maling dan bajingan dan komplotannya. Untuk orang ini aku berencana untuk
menjadikan aparat desa yang khusus untuk menangani bidang keamanan. Kekecewaan
mereka dengan sistem yang baru akan aku beli dengan uang. Akan aku jamin
kehidupan mereka khususnya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi. Karena aku
melihat, sebagian mereka yan bergabung dengan komplotan bajingan dan maling itu
lantaran mereka tak punya uang untuk hidup. Di tambah mereka yang malas untuk
bekerja keras. Mereka tak ingin hidup susah hingga perbuatan bejatlah yang
menjadi pilihan.
***
Tiga tahun aku berada di negeri orang. Namun
pikiranku tidak perlah lepas dari cita-cita membangun desa. Aku tak begitu
memikirkan kota orang. Karena mereka sudah memilik masyarakat sendiri untuk
memikirkannya. Kalau aku memikirkan daerah orang, maka siapa lagi yang akan
memikirkan kampungku.
Aku melihat banyak sekali kesalahan-yang telah
dilakukan olah seorang perantau ketika ia telah sukses di daerah rantau.
Kebanyakan mereka tinggal di daerah rantaunya dan melupakan kampung halaman
mereka. Mereka egois. Mereka tak sadar kalau tampa kampung yang melahirkan
mereka, ia tak akan seperti sekarang ini.
Aku akan menjauh dari sikap-sikap seperti itu. desaku
adalah surgaku. Tempat yang telah melahirkan aku. Aku harus menjaganya dari
setiap gangguan dan kerusakan karena ulah tangan-tangan yang tidak bertanggung
jawab.
Kampungku
Kampungku
Kampungku saat ini menjadi kampung sekarat, kampung
melarat, kampung bejat dan kampung yang tidak bermartabat.
Tunggu
kedatanganku. Aku merindukanmu dengan wajah yang baru.
Semarang, 16 September 2013
15.34 WIB

No comments:
Post a Comment