Hidup hanya tiga
pilihan/Kalau tidak membunuh, ia akan dibunuh/ Jika tidak dari keduanya, maka ia
gila.
Ada kabar tak terdengar, menyangkut hidupku. Aku terancam
akan, dilukai, diculik, bahkan mungkin akan dibunuh. Semua lantaran sebuah tulisanku
yang dimuat di sebuah media online lembaga, di kampus tempat aku kuliah pada tanggal 07
Oktober 2013 lalu. Tulisan itu berbentuk berita, tentang penggelapan dana yang
dilakukan oleh ketua Eksekutif di lembaga yang sama.
Entah dengan apa ancama
itu akan terjadi. Pembunuh bayaran? Ilmu ghaib? atau jenis tindakan bejat lain
semua masih dalam semu. Bisa saja semuanya hanya gertak sambal.
Sebelum salah seorang sahabat
mengabarkan kepadaku tentang hal tersebut, bahkan sebelum berita itu
diterbitkan, sebenarnya aku sudah faham sejak awal bahwa berita itu beresiko
tinggi sekaligus dengan siapa aku berhadapan. Sadar betul ketika itu, tulisan
tersebut memang mempertaruhkan nyawa. Berita-berita seputar kekerasan terhadap
wartawan bukan berita baru yang kerap di dengar di pelatihan-pelatihan jurnalistik
atau koran.
Aku berpikir lebih dalam
tentang misiku. “Haruskah aku mundur karena resiko, bukankah setiap pilihan selalu
mengandung resiko, apapun pilihannya selalu ada kemungkinan, entah kemungkinan
baik atau terburuk?”.
Aku memilih menjungjung
tinggi kebenaran, menegakkan keadilan. Dan di dalam setiap kebenaran dan
keadilan tentu saja akan ada ke-tidak-benaran
dan ketidakadilan yang akan selalu datang mencampuri. Kemungkinan terburuk itu,
apapun itu, mau tidak mau, harus ku hadapi.
Aku menyadari kata
orang, dan kataku sendiri: aku adalah mahasiswa. Seorang pemuda, generasi
bangsa yang telah melanjutkan studi di sekolah tinggi. Meskipun pada
kenyataanya entah orang lain menyebutku sebagai mahasiswa yang benar-benar
mahasiswa, atau hanya mahasiswa gadungan. Aku Tak peduli. Yang jelas, aku punya prinsip. “Aku tidak ingin menjadi mahasiswa
yang idealis hanya dalam pikiran namun jauh dari realitas yang dilakukan.
Melakukan hal-hal yang paling sederhana dan
bermanfaat bagi orang lain itulah yang terpenting. Katakan benar, jika itu
benar. Dan lawan kesalahan itu sekalipun kemungkinan terburuk akan terjadi. Nyatanya, mereka banyak yang
berfikir idealis dan sering berkoar-koar tak jelas justru yang banyak
terjerembab dalam tindakan tak bermoral, munafik, dusta dan “Jiancuk!” kata
orang jawa timur. Aku tahu itu karena sejak awal aku di perguruan tinggi terus
memantau apa yang mereka katakan dan mereka lakukan.
Menhadapi ancaman itu, sepertinya
tidak layak disebut orang pers jika aku terbungkam. Sudahnya saatnya pers yang
mengalami pembungkaman dan ancaman di berbagai perguruan tinggi di Indoensia
melakukan perlawanan.
Sebagai manusia masih
muda dan belum menikah mungkin aku masih sedikit berfikir tentang diriku jika
harus nyawa benar-benar menjadi taruhan. Namun sebagai orang yang punya harga
diri dan mempertahankan harga diri pers, aku lebih baik mati daripada
kehilangan harga diri itu. Kalau orang bisa mengancam,
aku pun bisa demikian. Kalau orang bisa membunuh, aku juga bisa membunuh.
Bahkan lebih parah dari apa yang telah ia perlakukan.
Hidup barangkali memang
harus lebih keras dari kehidupan yang kita lihat dan kita alami sendiri.
Perlawan terhadap kekerasan akan menguji sejauh mana kekebalan manusia dalam
menjalani hidup. Yang perlu dicatat: “Setiap orang punya satu nyawa. Sekali dicabut
yang satu itu, dia tak mungkin bangkit dan hidup kembali. Orang akan menilai
dan tahu nyawa siapa yang akan lebih
dulu lenyap. Orang akan tahu siapa yang akan jadi pemenang dalam medan
pertandingan.
Sekalipun nyawaku akan
melayang dalam masalah ini, setidaknya aku menjadi pengukir sejarah dan
pengobar semangat untuk terus menerus melakukan perlawanan. Perlawanan terhadap
ketidakadilan dan kebejatan.
Kalau dulu aku hanya sebatas
mendengar tentang ketidakadilan dari perbincangan tetangga, kini ketidakadilan
itu telah kulihat dengan mata kepala sendiri. Ketidakadilan yang bagiku harus
segera ditumpas. Ketidakadilan yang dilakukan oleh bocah tengik, anak kemaren
sore. Dan kapan-akan menjadi bumerang bagi umat manusia jika dibiarkan dan sudah
berhasil dilakukan dalam sekala makro.
Dan sekali-kali memang
manusia itu harus membunuh jika tidak ingin terbunuh. Membunuh karena ia akan
dibunuh dan bukan tanpa alasan. Orang harus menjadi pembunuh karena ia ingin
menyelamatkan diri, masyarakat, dan lingkungan sekitar dari “pembunuhan” massal.
Mereka membunuh karena perhatian terhadap lingkungannya yang diperlakukan
secara semena-mena. Tanpa membunuh maka dirinya sendiri yang akan dibunuh.
“Bisa saja ia tidak
membunuh atau dibunuh. Tapi harus diingat, itu hanya untuk orang gila yang tak
sadar akan kehidupan di sekelilingnya.
Membunuh, Dibunuh, atau Gila?
Pilih
saja!
Semarang, 12 Oktober 2013
Semarang, 12 Oktober 2013
No comments:
Post a Comment