Pekabarku dari negeri sebrang. Pertemuanku denganmu
dalam acara orientasi di sekolahmu beberapa hari yang lalu selalu menjadi lembaran
yang terus terbuka dalam setiap ingatan yang mengikuti setiap langkahku. Ternyata
tidak begitu mudah menghapus ingatan walau sekadar sisa bekas pandang denganmu
yang tak lebih dari banyak waktu kejadian itu kualami. Tak punya alasan hingga
aku menyapamu secara langsung ketika itu lantaran kita tak begitu saling
mengenal kecuali bekas-bekas masa lalu yang telah usang.
Sembari mengingat-ingat segalanya tentangmu,
satu hal yang selalu memaksaku untuk mengingatmu dalam lembaran sejarah masa
silam. Sebuah cerita yang telah berlalu dalam ingatan, jauh hari sebelum aku
pergi ke negeri seberang. Hingga kini saat aku tak bisa mengetahui kabarmu
kecuali bisik kecil dari teman ke teman melaui telpon genggam dengan jarak
ratusan kilometer, aku kembali dipertemukan denganmu.
Aku masih ingat ketika itu, secara tiba-tiba bapak menawarkan kepadaku untuk berjodoh denganmu. Aku
juga tak tau asal muasalnya tawaran itu. Tapi yang jelas, kebiasaan di daerah
kita, orang tua selalu menjadi alasan menyatunya dua hati di keindahan asmara.
Cinta akan tumbuh seiring kerapnya pertemuan memang benar. Terbukti, tak jarang
dari tetanggku, mereka menjadi pasangan seumur hidup yang harmonis walau pada
mulanya mereka tak begitu saling mengenal satu sama lain.
Entah
dari mana wangsit itu bapak dapatkan, hingga aku harus berjodoh denganmu.
Ingatakanku masih tajam, semenjak aku mulai mengenal wanita dengan perasaan
yang kadang-kadang aneh. Tak sedikitpun aku berkisah tentang wanita kepada
bapak, apa lagi tentangmu. Apa lagi untuk mengadu kepadanya agar aku dipinangkan
denganmu. Jelas, aku tidak tahu, ia wangsit ataukah tak lebih dari angan-angan
bapak yang tak berdasar sama sekali.
Saat itu, usiaku kurang
lebih lima tahun lebih tua darimu. Sedikitnya, aku sudah mulai mengenal
serumpun cerita asmara yang dilakonkan secara sembunyi-sembunyi oleh
kakak-kakakku di pesantren. Malam itu pula dengan pendirian yang kokoh, aku menolak tawaran yang tengah membuatku
kaget itu lantaran aku tahu sama sekali belum terlintas apapun tentangmu.
“Aku tak suka dijodohkan”kataku dalam hati. Ini bukan
zaman siti nurbaya. Aku hanya akan bersatu dengan orang yang aku cinta.
Pilihanku sendiri. Titik.
Kusampaikan penolakan kepada bapak dengan kata-kata
yang sopan dan halus agar tak menyinggung perasaannya. Sebagai anak yang dididik
di pesantren, bagiku, menyakiti orang
tua adalah dosa tanpa ampun. Lagi pula itu hanya tawaran. Bukan desakan atau
sebuah permintaan keharusan yang harus kupenuhi.
Rupanya bapak tak begitu faham maksudku. Ia yang
merupakan sisa-sisa kelahiran masa lampau tetap pada pendiriannya yang
tradisioal. Tawaran darinya menyimpulkan keharusan. Itu yang terbaik, menurut
bapak.
Berkali-kali aku menghadapnya secara serius dalam
perbincangan yang sama lantaran aku tetap pada pendirian semula. Berbagai alasan
aku kemukakan pada beliau yang tak mengerti jaman modern. Pada kesempatan yang
sama beliau juga punya seribu alasan untuk mematahkan alasanku. Aku melihat
keegoisan pada diri beliau yang selalu menganggap baik setiap pendapatnya dan
tidak begitu mudah menerima masukan orang lain.
Ah, bapakku memang kuno, katrok, tradisional yang hanya tahu sawah dan
kandang.
Untuk kali kesekian bapak kembali memanggilku.
Akupun menghadapnya dengan tanpa rasa
kecuali rasa bosan. Siapapun barangkali tidak akan pernah menyukai satu topik
dalam banyak kesempatan. Begitupun aku.
Aku kaget ketika tiba bapak bersikap tidak seperti
biasanya. Entah lah, barangkali sebelum beliau pulang dari sawah sempat
menabrak pepohonan. Atau barangkali karena diseruduk sapi sewaktu memberinya
makan di kandang sehingga ia berubah pikiran. Perihal perjodohan, bapak tidak
lagi ngotot seperti hari hari sebelumnya. Ia lantas memasrahkan kepadaku perihal
wanita yang harus kupilih untuk dijadikan teman hidup.
Bahkan, sebelum perbincangan kami berakhir, tidak
lupa beliau memberi saran kriteria seseorang yang harus mendampingiku. Kriteria
yang memang seharusnya keluar sebagai nasihat dari orang tua kepada anak.
“kalau mencari calon istri tidak perlu wanita yang
sangat cantik. Karena, wanita yang sangat cantik akan selalu dilirik orang
lain” pesannya sembari membuka senyum. “Carilah wanita yang bisa menyangimu dan
orang tuamu dalam kondisi apapun”
Aku mengangguk.
***
Ketika itu usiamu masih terlampau kanak-kanak. Dan lagi
pula aku sudah punya pilihan yang mungkin cukup lebih dewasa darimu. Maka
bagaimana mungkin aku dapat menerimamu hanya karena tawaran orang tuaku. Hanya
beberapa kali aku melihatmu, bertemu dalam satu ruang hening dari percakapan
anak muda, ketika kamu dan keluargamu berkunjung kerumah Mirna, sepupumu yang
tak jauh dari rumahku.
Aku juga masih ingat betul, ketika itu kamu selalu mencium
tanganku sebagai bentuk kebaktian kepada orang yang lebih tua dengamu. Setelah
itu kamu pulang ke rumahmu tanpa meninggalkan bekas yang berarti dalam memori
ingatanku. Apakah bisa aku mencintai bocah ingusan yang bagiku belum tahu
menahu tentang perasaan.
Kita pernah bertemu lantaran kita sebenarnya masih
bersaudara walau bukan hubungan sedarah. Secara nasab, ibuku dan ibu Mirna
adalah saudara kandung, sedangkan
bapakmu dan bapak Mirna juga bersaudara. Itulah sebabnya mengapa kita harus
selalu bertemu dalam waktu tertentu, paling tidak pada hari lebaran yang datang
setiap tahun. Barangkali pula karena ini
hingga bapak menawarkanmu untuk aku persunting agar semakin mempererat
persaudaraan dan kekeluargaan kita. Entah lah.
***
Sekarang kamu telah tumbuh menjadi remaja. Sekolahmu
di sekolah menengah atas sukar dipercaya jika kamu tidak pernah mencintai seorangpun
dari lawan jenismu. Atau paling tidak usia telah mempertemukanmu dengan
perasaan aneh jika bertemu dengan lelaki gagah
dan tampan di pinggir jalan.
Tak begitu mudah aku mengingat kapan terakhir kali
aku melihatmu sebelum kita dipertemukan dalam sebuah acara di sekolahmu
beberapa hari yang lalu. Di sebuah ruang
yang hanya dipisahkan oleh statusmu sebagai peserta, dari ruang panitia aku hanya
dapat memandangmu. Saat itu kamu dan beberapa kawanmu tengah duduk di kursi
sembari mendengarkan beberapa materi yang harus kamu ikuti.
Aku juga melihatmu ketika engkau
menari dalam salah satu pertunjukan tari pada malam terakhir acara itu.
Pandaganku tidak pernah lepas dari setiap lentikan jemari yang engkau gerakkan
bersamaan dengan tubuhtubuhmu yang mulai menjuntai. Gaya bicaramu yang sedikit
lugu dengan nada agak manja juga masih kuingat jelas sampai menjelang
kepergianku kembali ke negeri seberang. Negeri yang jauh yang telah dipisah
oleh lautan itu telah menyulitkanku untuk sekadar melihatmu dari kejauhan.
Ingin sekali
aku berkisah banyak hal tentangmu. Namun, bagimu, aku yang barangkali tak lebih
hanya orang baru selalu melumat keinginan itu. Hanya hembusan angin yang kuharap
bisa menyampaikan sepenggal kisah tentangmu dalam benak mulai beberapa hari
yang lalu.
Kisahku pada angin, kisahku pada mendung, kisahku dedaunan
yang melilit di atap rumahmu, semuanya, telah berlalu sebelum kepergianku. Kisahku
adalah kisah baru, yaitu kisah tentang
wajahmu yang bundar, tentang matamu yang tajam dan kisah tentang perasaan yang
beberapa hari ini telah mengganggu pikirku.
Lagi,
aku ingin berkisah tentang penolakan untuk
dijodohkan denganmu beberapa tahun silam. Kisah terakhir mungkin tidak kurang
dari kisah tangis setelah aku melihatmu telah dirubah oleh waktu.
Semarang, 25 Agustus- 06 September 2013
No comments:
Post a Comment